Asap di Gaza yang diserang oleh Israel. Foto: Anadolu
PBB Nilai Krisis Gaza Masih Berbahaya di Tengah Gencatan Senjata
Muhammad Reyhansyah • 27 January 2026 18:48
New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin, 26 Januari 2026 menyatakan bahwa gencatan senjata yang masih “rapuh” di Jalur Gaza mulai meredakan bencana kemanusiaan yang dihadapi anak-anak, meskipun situasi di lapangan tetap dinilai “sangat genting dan mematikan.”
Berbicara dalam konferensi pers di markas besar PBB usai kunjungan terbarunya ke Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF Ted Chaiban mengatakan ia berbicara dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kekhawatiran. Pernyataan itu disampaikannya setelah misi selama sepekan bersama Wakil Direktur Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) Carl Skau.
“Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, terdapat tanda-tanda bahwa gencatan senjata yang tidak sempurna, rapuh, tetapi sangat penting ini mulai membawa perubahan dalam kehidupan lebih dari satu juta anak,” ujar Chaiban, dikutip dari Anadolu, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menyebut lebih banyak truk bantuan penyelamat nyawa kini memasuki Gaza, meski jumlahnya “belum cukup untuk memenuhi besarnya kebutuhan.” Menurutnya, situasi ketahanan pangan menunjukkan perbaikan dan ancaman kelaparan telah berhasil ditekan.
Chaiban mengatakan UNICEF dan mitranya telah menjangkau lebih dari 1,6 juta orang dengan air minum bersih serta menyalurkan selimut dan pakaian musim dingin kepada sekitar 700.000 orang. Layanan perawatan intensif anak di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, juga telah dipulihkan.
“Pencapaian ini penting. Ini menunjukkan apa yang bisa terjadi ketika pertempuran berhenti, komitmen politik dijaga, dan akses kemanusiaan dibuka,” katanya.
Krisis Tetap Mematikan
Meski ada kemajuan, Chaiban memperingatkan bahwa lebih dari 100 anak telah tewas di Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan pada awal Oktober. Ia menambahkan, “Terlepas dari kemajuan dalam ketahanan pangan, 100.000 anak masih mengalami malnutrisi akut dan membutuhkan perawatan jangka panjang.”Ia juga menyoroti bahwa sekitar 1,3 juta orang sangat membutuhkan tempat tinggal yang layak. Banyak keluarga masih bertahan di tenda-tenda atau bangunan yang hancur akibat serangan, di tengah badai musim dingin.
“Dengan tragis, kami menerima laporan sedikitnya 10 anak meninggal akibat hipotermia sejak musim dingin dimulai,” ujar Chaiban.
Chaiban menyampaikan kekhawatiran atas langkah Israel mencabut pendaftaran sejumlah organisasi non-pemerintah internasional. Menurutnya, kebijakan tersebut “berisiko merusak operasi kemanusiaan dan secara tajam membatasi pengiriman serta peningkatan bantuan penyelamat nyawa di Gaza dan Tepi Barat.”
Ia menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan gencatan senjata dan menyatakan bahwa “fase kedua bukan sekadar tonggak politik, melainkan kebutuhan kemanusiaan.” Ia menyerukan pembukaan lebih banyak jalur perlintasan, jaminan pergerakan aman bagi warga sipil, serta pembukaan kembali koridor Rafah untuk lalu lintas dua arah.
“Semua jalur perlintasan yang tersedia harus beroperasi secara bersamaan, dengan koridor aman melalui Yordania dan Mesir,” katanya.
Dorongan Tata Kelola Gaza
Terkait tata kelola dan pemulihan, Chaiban menilai Komite Nasional untuk Administrasi Gaza “mewakili peluang nyata untuk meningkatkan akses kemanusiaan dan bergerak menuju pemulihan awal serta rekonstruksi, jika dapat dioperasionalkan sepenuhnya dan didukung, sekaligus memberi warga Palestina kendali atas masa depan mereka.”Ia menekankan perlunya kepastian dalam operasi kemanusiaan, termasuk izin masuk bagi barang-barang penting untuk air dan sanitasi, termasuk yang dikategorikan sebagai “barang guna ganda”, serta perlengkapan pendidikan.
“Anak-anak Gaza dan Negara Palestina, termasuk di Tepi Barat yang juga tengah mengalami gelombang kekerasan, tidak membutuhkan simpati. Mereka membutuhkan keputusan sekarang yang memberi mereka kehangatan, keamanan, makanan, pendidikan, dan masa depan,” kata Chaiban, seraya mendesak komunitas internasional memanfaatkan momentum untuk “mengubah arah” kehidupan anak-anak Gaza.
Gaza di Tepi Jurang
Dalam pernyataan virtual terpisah, Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau mengatakan Gaza berada “di ambang kelaparan” saat ia terakhir berkunjung pada Juli lalu, menyebutnya sebagai “salah satu krisis terburuk yang pernah saya saksikan.”“Namun pekan lalu, Ted dan saya melihat gambaran yang agak berbeda. Gencatan senjata memungkinkan kami meningkatkan skala bantuan dan menstabilkan tingkat kelaparan serta gizi yang paling akut. Ancaman kelaparan berhasil ditekan,” ujar Skau.
Ia mengatakan WFP kini menjangkau lebih dari satu juta orang setiap bulan dengan jatah makanan penuh, menyediakan 400.000 makanan panas setiap hari, serta mendistribusikan makanan ringan sekolah kepada 230.000 anak.
Namun, Skau memperingatkan masih panjang jalan yang harus ditempuh. Ia menegaskan capaian tersebut dapat dengan mudah terbalik dan ratusan ribu orang masih mengungsi dalam kondisi berbahaya.
“Seluruh populasi kini hidup di tepi jurang, dan terus terang, memiliki seluruh populasi hidup di kondisi seperti ini sama sekali tidak dapat diterima,” kata Skau.
Ia kembali menyerukan kondisi operasional yang aman dan dapat diprediksi, pembukaan jalur perlintasan secara berkelanjutan, serta tindakan mendesak “untuk benar-benar membanjiri Jalur Gaza dengan tempat perlindungan, agar keluarga terlindungi dari dingin yang menggigit dan hujan lebat.”