Sekjen NATO Mark Rutte. (Anadolu Agency)
Sekjen NATO Mark Rutte Tegaskan Eropa Tak Bisa Bertahan Tanpa AS
Muhammad Reyhansyah • 27 January 2026 11:38
Brussels: Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte pada Senin, 26 Januari 2026, menegaskan peran Amerika Serikat (AS) sebagai pilar utama pertahanan Eropa, seraya menepis gagasan bahwa Eropa dapat melindungi dirinya sendiri tanpa dukungan Washington.
Berbicara di hadapan Komite Urusan Luar Negeri serta Komite Keamanan dan Pertahanan Parlemen Eropa di Brussels, Rutte mengatakan ancaman keamanan saat ini tidak memungkinkan Eropa berdiri sendiri.
“Jika ada yang berpikir bahwa Uni Eropa, atau Eropa secara keseluruhan, bisa mempertahankan diri tanpa Amerika Serikat, teruslah bermimpi. Kalian tidak bisa. Kami tidak bisa. Kami saling membutuhkan,” ujar Rutte, dikutip dari Anadolu Agency, Selasa, 27 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa ketergantungan tersebut bersifat dua arah. Menurutnya, Amerika Serikat juga membutuhkan NATO untuk menjamin keamanannya sendiri, sehingga hubungan antaranggota aliansi bersifat saling melengkapi.
Rutte juga mengkritik keras gagasan peningkatan belanja pertahanan Eropa secara mandiri tanpa AS.
“Jika Anda benar-benar ingin berjalan sendiri, dan mereka yang mendorong itu, lupakan saja. Anda tidak akan pernah sampai ke sana dengan 5 persen, bahkan harus 10 persen,” katanya.
Ia menegaskan bahwa Eropa harus membangun kemampuan nuklir sendiri dengan biaya “miliaran dan miliaran euro”, yang justru akan menghilangkan jaminan keamanan utama.
“Dalam skenario itu, Anda akan kehilangan penjamin tertinggi kebebasan kita, yaitu payung nuklir Amerika Serikat. Jadi, ya, semoga beruntung,” ujarnya.
Koordinasi NATO-Uni Eropa
Rutte menekankan pentingnya koordinasi erat antara NATO dan Uni Eropa, sambil mengakui keunggulan masing-masing. “Uni Eropa sangat kuat dalam ketahanan, dan juga unggul dalam regulasi. Namun di sini, yang kita perlukan justru deregulasi,” katanya.Pernyataan tersebut disampaikan di tengah ketegangan yang masih membayangi isu Greenland, menyusul upaya kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk memperoleh wilayah Denmark itu.
Trump disebut telah melunakkan sikapnya setelah bertemu Rutte di Davos, Swiss, dengan menyatakan pembahasan kerangka kesepakatan terkait Greenland yang ditujukan untuk menjawab kekhawatiran keamanan serta membendung pengaruh Rusia dan Tiongkok.
Rutte menjelaskan bahwa terdapat dua jalur kerja yang disepakati terkait Greenland dan keamanan Arktik. Jalur pertama berfokus pada peran NATO yang lebih aktif dalam menentukan langkah kolektif aliansi untuk mencegah Rusia dan Tiongkok meningkatkan kehadiran mereka di kawasan tersebut.
Jalur kedua, kata Rutte, melibatkan Denmark, Greenland, dan Amerika Serikat. “Itu urusan Denmark, Greenland, dan AS. Saya tidak akan terlibat dalam jalur kerja itu,” ujarnya. Ia menegaskan tidak memiliki mandat untuk bernegosiasi atas nama Denmark.
Ukraina Jadi Prioritas Mendesak
Terkait perang antara Moskow dan Kyiv, Rutte menekankan bahwa meskipun industri pertahanan dan pasar internal Eropa merupakan kekuatan penting, prioritas utama saat ini adalah memenuhi kebutuhan pertahanan Ukraina yang mendesak di tengah serangan berkelanjutan terhadap “infrastruktur sipil”.Ia menyoroti paket pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro yang dinilainya akan berdampak besar terhadap keamanan dan kemakmuran Ukraina. Namun, Rutte mendorong agar penggunaan dana tersebut tetap fleksibel.
“Eropa memang sedang membangun industri pertahanannya, dan itu penting, tetapi saat ini belum mampu menyediakan hampir semua yang dibutuhkan Ukraina untuk mempertahankan diri hari ini dan mencegah ancaman di masa depan,” katanya. Ia meminta agar kebutuhan Ukraina tetap menjadi fokus utama.
Rutte juga menegaskan peran krusial Amerika Serikat dalam menjaga Ukraina tetap bertahan, seraya mencatat bahwa peralatan militer AS senilai miliaran dolar terus mengalir ke negara tersebut.
Baca juga: Trump Klaim NATO Tak Pernah Ada di Garis Depan Afghanistan, Inggris Geram