Kader HMI Diharapkan Isi Ruang Kepemimpinan Strategis

LK III HMI 2025 di Surabaya. Foto: Dok HMI Jawa Timur.

Kader HMI Diharapkan Isi Ruang Kepemimpinan Strategis

Arga Sumantri • 23 December 2025 19:05

Surabaya: Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diharapkan bisa mengisi ruang kepemimpinan strategis di Tanah Air. Kepemimpinan muda harus dipahami sebagai bagian dari estafet sejarah bangsa, bukan sekadar regenerasi usia. 

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dalam pembukaan Latihan Kader III (LK III) 2025 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jatim, Surabaya. Kegiatan yang digelar Badan Koordinasi HMI ini mengusung tema 'Rekonstruksi Ketahanan Nasional untuk Jawa Timur Tangguh Terus Bertumbuh'.

Menurut Emil, persoalan utama Indonesia bukan pada ketiadaan sumber daya. Melainkan, kegagalan menyiapkan kepemimpinan yang matang secara intelektual dan etis.

"Kepemimpinan muda harus dibangun dengan nalar, etika, dan keberanian mengambil keputusan. Di sinilah peran organisasi kader seperti HMI menjadi strategis," ujar Emil dikutip Selasa, 23 Desember 2025. 

Ia mengatakan Jawa Timur sebagai salah satu episentrum ekonomi dan sumber daya manusia nasional membutuhkan pemimpin muda yang adaptif terhadap perubahan global, namun tetap berakar kuat pada nilai dan kepentingan publik. Kepemimpinan masa depan, kata Emil, harus mampu menjembatani idealisme dan realitas kebijakan.

Akar krisis kepemimpinan

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, M. Sarmuji, menekankan krisis kepemimpinan kerap berakar pada ketidaktepatan membaca momentum dan ketimpangan orientasi nilai. Menurut dia, kepemimpinan bukan semata soal kapasitas personal, melainkan tentang ketepatan hadir pada ruang dan waktu yang sesuai. 

"Banyak pemimpin gagal bukan karena kurang cerdas, melainkan karena kehilangan keseimbangan orientasi dan ketepatan momentum. Kepemimpinan Islam justru menuntut keseimbangan nilai sekaligus kepekaan terhadap ruang dan waktu," ujar Sarmuji.

Ia mengungkapkan tradisi intelektual Islam sebagaimana tercermin dalam berbagai literatur pemikiran Islam modern selalu memandang kepemimpinan sebagai amanah moral yang harus dijalankan dengan kebijaksanaan membaca konteks, bukan sekadar menduduki posisi struktural. Dalam kerangka tersebut, HMI dinilai memiliki modal historis dan intelektual yang kuat untuk melahirkan pemimpin berintegritas, yang mampu hadir secara tepat: tidak terlambat merespons zaman, tidak pula terlalu dini melampaui kesiapan sosialnya.

Ujian kematangan kader HMI

Ketua Umum Badko HMI Jatim Yusfan Firdaus menegaskan tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks ketimbang generasi sebelumnya. Selain persoalan klasik kebangsaan, generasi muda dihadapkan pada disrupsi teknologi, krisis identitas, fragmentasi sosial, serta melemahnya daya tahan ideologis. 

Yusfan menggambarkan jenjang kaderisasi HMI sebagai sebuah pohon yang tumbuh perlahan namun kokoh. Pada jenjang Latihan Kader I (LK I), akar itu mulai menjalar dan bertemu dengan ranting-ranting awal, menandai fase pembentukan nalar, keberanian bersuara, serta kepekaan terhadap realitas sosial.

Ketua Umum Badko HMI Jatim Yusfan Firdaus. Dok HMI Jatim

Memasuki Latihan Kader II (LK II) pohon itu kian menegakkan batangnya. Akar semakin menghujam, ranting semakin kuat, dan daun-daun mulai tumbuh, melambangkan keluasan perspektif, kedalaman analisis, serta kemampuan kader membaca persoalan secara struktural dan kultural. 

"Sedangkan Latihan Kader III (LK III) adalah fase ketika pohon itu mulai berbuah. Akar nilai, ranting nalar, dan daun intelektual telah berpadu melahirkan buah berupa kepemimpinan strategis yang bukan hanya matang secara pemikiran, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya," beber Yusfan.

Ia menekankan bahwa LK III bukan sekadar puncak jenjang kaderisasi, melainkan ujian kematangan sejauh mana kader mampu menghadirkan nilai keislaman dan keindonesiaan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. 

"Di sinilah kader HMI dipersiapkan bukan hanya untuk hadir di lingkar kekuasaan, tetapi untuk menentukan arah, menjaga akal sehat publik, dan memastikan pohon perjuangan ini terus hidup, bertumbuh, dan berbuah bagi bangsa," ujar Yusfan.

LK III merupakan jenjang kaderisasi tertinggi HMI di tingkat nasional yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan strategis kader dalam merespons tantangan kebangsaan, regional, hingga global. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)