16 Februari, Garuda Indonesia Flight 708 Kecelakaan di Bandara Sam Ratulangi Manado 22 Penumpang Tewas

Ilustrasi. Foto: dok Garuda Indonesia.

16 Februari, Garuda Indonesia Flight 708 Kecelakaan di Bandara Sam Ratulangi Manado 22 Penumpang Tewas

Whisnu Mardiansyah • 16 February 2026 08:07

Manado: Pagi itu, langit di Manado belum sepenuhnya cerah. Awan rendah masih di sekitar perbukitan yang mengelilingi bandar udara. Bagi sebagian warga, hari masih terlalu dini untuk menyadari bahwa sebuah peristiwa kelam akan tercatat dalam sejarah penerbangan Indonesia. Namun, di ujung landasan Bandara Sam Ratulangi Manado, sebuah pesawat penumpang nasional tengah berjuang menyelesaikan penerbangan panjangnya.

Pesawat itu adalah Lockheed L-188 Electra milik Garuda Indonesia. Nomor penerbangannya kemudian dikenang dalam sejarah sebagai Garuda Indonesia Flight 708—sebuah tragedi yang merenggut 22 nyawa dan menjadi kecelakaan pesawat komersial pertama di Indonesia yang menelan korban jiwa dalam skala besar pada era pascakemerdekaan.

Penerbangan itu berangkat dari Jakarta dengan tujuan akhir Manado, membawa puluhan penumpang yang hendak menuju Sulawesi Utara. Rute yang ditempuh bukanlah perjalanan singkat. Pesawat singgah di Surabaya dan Makassar, mengikuti pola penerbangan jarak jauh pada dekade 1960-an, ketika teknologi navigasi dan infrastruktur bandara masih terbatas dibandingkan masa kini.

Perjalanan sempat diwarnai hambatan cuaca. Di Makassar, pesawat bahkan harus menunda pendaratan dan kembali ke Surabaya demi keselamatan. Setelah kondisi membaik, pesawat kembali melanjutkan perjalanan. Pada pagi 16 Februari 1967, pesawat akhirnya terbang menuju Manado etape terakhir yang seharusnya menjadi penutup perjalanan. Tak ada yang menyangka, justru di tahap akhir inilah malapetaka menunggu.


Bandara Sam Ratulangi pada masa itu belum semegah sekarang. Landasan pacu masih relatif pendek, dikelilingi kontur alam berupa perbukitan dan vegetasi lebat. Pendekatan pendaratan menuntut presisi tinggi, terutama dalam kondisi cuaca yang tidak ideal.

Saat pesawat mendekati landasan, jarak pandang dilaporkan terbatas. Awan rendah membuat pendekatan visual menjadi menantang. Dalam situasi seperti itu, pilot harus menjaga ketinggian, kecepatan, dan sudut turun dengan sangat cermat.

Namun, ketika pesawat melewati area perbukitan sebelum landasan, posisi pesawat diketahui terlalu tinggi dan sedikit menyimpang dari jalur ideal. Upaya koreksi dilakukan. Hidung pesawat diturunkan, sudut kemiringan diubah, dan tenaga mesin disesuaikan agar pesawat kembali ke lintasan pendaratan. Manuver tersebut ternyata berujung fatal.


Ilustrasi. Foto: dok Garuda Indonesia.

Benturan di Ujung Landasan

Dalam hitungan detik, kecepatan pesawat turun di bawah batas aman. Pesawat menyentuh landasan dengan keras bahkan sebelum mencapai ambang resmi landasan pacu. Benturan tersebut menyebabkan roda pendarat runtuh. Pesawat tergelincir, keluar jalur, dan akhirnya terbakar.

Api dengan cepat melalap badan pesawat. Kepanikan melanda kabin. Beberapa penumpang berhasil menyelamatkan diri, dibantu awak pesawat dan warga sekitar bandara. Namun, tidak semua beruntung. Sebanyak 22 penumpang tewas dalam insiden tersebut, sebagian besar akibat benturan dan kebakaran. Tragedi itu berlangsung hanya dalam beberapa menit, tetapi dampaknya mengguncang dunia penerbangan nasional.

Di tengah kepanikan, muncul kisah-kisah kemanusiaan yang kemudian dikenang. Sejumlah penumpang dan awak pesawat berusaha membantu sesama, menarik korban dari reruntuhan sebelum api membesar. Salah satu nama yang kemudian dikenang adalah Mayor Engelbert William Antonius Pangalila, seorang perwira TNI AL yang berada di dalam pesawat dan dilaporkan membantu penumpang lain sebelum akhirnya gugur.

Menurut catatan sejarah, saat pesawat limbung, Pangalila sudah bersiap di pintu keluar. Namun, karena mendengar teriakan minta tolong, ia kembali ke dalam untuk menolong penumpang lain. Sayang, nyawa sang marinir tidak tertolong karena pesawat keburu meledak.

Investigasi dan Kesimpulan Teknis

Penyelidikan kecelakaan menyimpulkan bahwa penyebab utama tragedi ini adalah teknik pendaratan yang tidak tepat, yang menghasilkan laju penurunan berlebihan saat pesawat menyentuh landasan. Faktor cuaca dan kondisi lapangan turut memperberat situasi, tetapi tidak ditemukan indikasi kerusakan struktural pesawat sebelum pendaratan.

Beberapa faktor lain turut berkontribusi, antara lain lebar landasan yang terlihat lebih sempit dari sudut pandang pilot, permukaan landasan yang tidak rata, serta terbatasnya pengetahuan pilot dan operator mengenai hubungan antara laju penurunan dengan daya dorong negatif pada kecepatan rendah.

Pada era tersebut, standar keselamatan penerbangan Indonesia masih dalam tahap berkembang. Sistem peringatan dini, pelatihan simulasi lanjutan, dan infrastruktur navigasi belum sekomprehensif saat ini. Tragedi di Manado menjadi salah satu momentum penting untuk melakukan evaluasi besar-besaran.

Kabar jatuhnya pesawat Garuda di Manado segera menyebar ke seluruh Indonesia. Media nasional memberitakan peristiwa ini sebagai tragedi besar. Pemerintah menyampaikan belasungkawa, sementara Garuda Indonesia menghadapi sorotan tajam atas standar keselamatan penerbangan nasional.

Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa transportasi udara yang kala itu mulai menjadi simbol modernitas dan kemajuan tetap menyimpan risiko besar. Namun dari tragedi ini pula, lahir kesadaran baru. Evaluasi prosedur pendaratan, peningkatan pelatihan pilot, serta pembenahan infrastruktur bandara menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.

*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)