Siswa antre mendapatkan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk makan siang dengan konsep prasmanan. Foto: dok MI/Ramdani.
Dapur MBG Disebut Buka Lapangan Kerja dan Gerakan Ekonomi Lokal
Misbahol Munir • 15 May 2026 11:48
Jakarta: Divisi Antar Lembaga Laskar Prabowo 08 menggelar diskusi bertajuk “Dampak Dapur SPPG MBG dalam Masyarakat Sekitar” di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Mei 2026. Kegiatan yang berlangsung secara hybrid tersebut menjadi ruang sosialisasi mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua Umum Laskar Prabowo 08 Devi Taurisa mengatakan diskusi dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai sistem dan manfaat program MBG.
“Diskusi ini penting agar masyarakat memahami bagaimana dapur SPPG berjalan serta dampak positifnya bagi lingkungan sekitar,” ujar Devi.
Acara tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Herry Yanson dari SPPG, Ketua Yayasan dan SPPG Sahat Manalu, Tenaga Ahli Bidang Sistem dan Tata Kelola Badan Gizi Nasional Nikendarti H. Gandini, serta perwakilan Badan Informasi Geospasial, M. Nurman.
Dalam diskusi dijelaskan, Program MBG melalui dapur SPPG tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bergizi, tetapi juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
Setiap unit dapur disebut dapat menyerap sekitar 30 hingga 50 tenaga kerja lokal, terutama ibu rumah tangga dan warga prasejahtera.

Laskar Prabowo 08 menggelar diskusi bertajuk “Dampak Dapur SPPG MBG dalam Masyarakat Sekitar” di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 14 Mei 2026. Foto: Dok/Istimewa
Selain itu, bahan baku seperti beras, telur, daging, dan sayuran diprioritaskan berasal dari petani, peternak, dan pelaku UMKM setempat guna memperkuat rantai pasok lokal.
Para narasumber juga menekankan pentingnya tata kelola, pemanfaatan data, dan pemetaan geospasial untuk mendukung pemerataan pelaksanaan program MBG di berbagai daerah.
Dari sisi kesehatan, program MBG dinilai menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam meningkatkan kualitas gizi anak dan menekan angka stunting nasional.
Meski pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah tantangan, program tersebut disebut terus dievaluasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan.