Ilustrasi emas batangan dan mata uang global, merepresentasikan pergeseran korelasi antara Bitcoin dan emas pada 2026 di tengah perubahan likuiditas keuangan dunia. (Foto: Dok.)
Maturasi Aset Digital: Mengapa Bitcoin 2026 Tidak Lagi Mengekor Pergerakan Emas
Patrick Pinaria • 7 February 2026 14:30
Jakarta: Tiba pada 2026, jagat finansial melihat kejadian yang mengubah pandangan umum. Berpuluh-puluh musim, Bitcoin (BTC) dan Emas (XAU) dinilai selaku instrumen serupa yang berlari bersamaan guna memagari inflasi maupun penurunan nilai uang kertas. Tetapi, angka per Februari 2026 membuktikan munculnya "Pemisahan Besar" (The Great Decoupling). Tatkala emas kian menggapai puncak tertinggi baru, Bitcoin justru terhimpit pada tahap rehat dan penurunan teknis yang ekstrem.
1. Analisis data terkini: jurang pemisah yang melebar
Berdasarkan data pasar per 30 Januari 2026, angka-angka berikut menunjukkan kontras yang mencolok antara kedua aset penyimpan nilai tersebut:| Metrik Pasar | Bitcoin (BTC) | Emas (XAU) |
| Harga Terkini | $78.623,95 | $4.745,10 /oz |
| Kapitalisasi Pasar | $1,6 triliun | $33,9 triliun |
| Korelasi Bergulir 1 Tahun | -0,09 | N/A |
| Rasio BTC terhadap Emas | 16,57 oz | N/A |
| Dominasi Pasar | 4,6% dari Emas | Pilar Utama Global |
Angka korelasi -0,09 adalah data kunci yang menunjukkan bahwa hubungan historis kedua aset ini hampir sepenuhnya terputus. Emas telah melesat naik (pernah menyentuh USD5.500 pada Januari), sementara Bitcoin justru merosot dari puncaknya di USD126.000 (Oktober 2025) menuju level USD78.000. Saat ini, 1 Bitcoin hanya setara dengan 16,57 ounce emas, mencerminkan pergeseran kekuatan yang signifikan di awal tahun.
2. Akar masalah: bukan kegagalan, melainkan perbedaan fungsi
Analisis mendalam terhadap struktur pasar mengungkapkan bahwa divergensi ini bersifat fundamental dan siklikal. Masalahnya bukan pada kegagalan salah satu aset, melainkan pada asal-usul likuiditas dan bagaimana ia bersirkulasi.
A. Emas sebagai "Bunker" geopolitik
Menurut Jason Gozali, Head of Research Pluang, pendorong utama lonjakan emas di tahun 2025-2026 bukanlah spekulasi retail, melainkan akumulasi strategis oleh bank sentral global—terutama Tiongkok, India, dan Rusia. Bank-bank ini terus membeli emas fisik pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya (rata-rata 1.000 ton per tahun) sebagai langkah dedolarisasi. Bagi negara-negara ini, emas adalah "jangkar" yang tidak bisa "dimatikan" oleh sanksi Barat atau perubahan perangkat lunak.
B. Bitcoin sebagai "Spons Likuiditas" global
Dalam report terbaru bertajuk divergensi emas dan bitcoin oleh tim research Pluang, Bitcoin telah berevolusi menjadi barometer bagi Pasokan Uang M2 Global. Berdasarkan model analisis Vector Autoregression (VAR), sekitar 41 persen pergerakan harga Bitcoin dipengaruhi langsung oleh likuiditas global, sementara emas hanya menyumbang pengaruh langsung sebesar 26 persen.Bitcoin bertindak sebagai "spons" yang menyerap kelebihan modal dari sistem perbankan. Namun, di awal 2026, likuiditas ini tertahan. Meskipun program pengetatan kuantitatif (QT) Federal Reserve telah berakhir, kebijakan "Soft QE" yang diharapkan belum sepenuhnya membanjiri pasar kripto, membuat Bitcoin tampak "haus" akan arus modal baru sementara emas sudah lebih dulu kenyang oleh permintaan fisik bank sentral.
3. Dinamika Tiongkok vs. Amerika Serikat
Sumber likuiditas memainkan peran krusial dalam divergensi ini. Laporan pasar menunjukkan bahwa Tiongkok adalah penggerak utama lonjakan emas. Likuiditas dari ekonomi riil Tiongkok mengalir deras ke logam mulia untuk stabilitas domestik di tengah ketidakpastian tarif dagang.Di sisi lain, Bitcoin sangat sensitif terhadap kondisi keuangan di Amerika Serikat. Kehadiran ETF Bitcoin Spot yang kini mendominasi pasar (seperti IBIT milik BlackRock) telah "mengikat" nasib Bitcoin dengan selera risiko Wall Street. Ketika pasar saham AS mengalami tekanan di awal 2026, Bitcoin diperlakukan sebagai aset berisiko tinggi (high-beta) yang dilikuidasi untuk menutupi margin saham, bukan sebagai tempat perlindungan aman seperti emas.
4. Analisis siklus: bergerak bersama, cycle apart
Satu perspektif penting yang sering diabaikan adalah bahwa emas dan Bitcoin "trend together, but cycle apart." Secara jangka panjang (dekade), keduanya berkorelasi positif karena merespon debasement mata uang fiat. Namun, dalam jangka pendek, mereka sering bergerak berlawanan arah.Kondisi saat ini menggambarkan siklus di mana emas memimpin karena ketakutan geopolitik mencapai puncaknya. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketertinggalan Bitcoin dari emas biasanya diikuti oleh fase "pengejaran" yang agresif. Dengan kapitalisasi pasar Bitcoin yang baru mencapai 4,6 persen dari total pasar emas, potensi pertumbuhan (upside) Bitcoin tetap jauh lebih besar secara matematis daripada emas yang sudah sangat mapan.
5. Perubahan struktur pasar: maturation vs volatility
Memasuki pertengahan 2026, Bitcoin menunjukkan tanda-tanda pendewasaan. Peran investor institusional dan regulasi yang semakin jelas (seperti UU SLR yang akan diberlakukan April 2026 di AS) membuat basis permintaan menjadi lebih luas. Meskipun volatilitas tetap ada, terbukti dengan likuidasi massal senilai USD1,7 miliar pada akhir Januari, Bitcoin tetap menjadi pilihan utama sebagai proksi teknologi dalam sistem moneter global.Emas menawarkan tren naik yang lebih terstruktur dan konsisten, cocok bagi mereka yang mencari pelestarian kekayaan murni. Sebaliknya, Bitcoin menawarkan eksposur terhadap pertumbuhan likuiditas digital yang eksplosif.
6. Akses beli emas dan Bitcoin bagi investor Indonesia melalui Pluang
Di Pluang, kamu bisa membeli Emas (XAU) ataupun Bitcoin secara langung. Melalui satu platform, investor dapat:
- Most Complete Trading App: Akses ke 2.000+ aset secara instan. Anda bisa menangkap momentum di Bursa Efek Indonesia sekaligus melakukan positioning di pasar global (NYSE, Nasdaq) hanya dalam satu aplikasi.
- Most Competitive Spread & USDT: Esensial bagi scalper dan day trader untuk meminimalkan cost of trading dan memaksimalkan profitabilitas bersih.
- Trade with Aura AI: Memanfaatkan kecerdasan buatan untuk analisis sentimen dan identifikasi sinyal pasar secara real-time.
- High Leverage Options: Tersedia 25x Leverage pada Crypto Futures dan 4x Leverage pada AI Stocks yang dapat ditradingkan 24 jam.
- Advanced Derivatives: Dukungan untuk US Stocks Options (Long & Short), memungkinkan strategi hedging atau spekulasi volatilitas tingkat lanjut.
- Akses Global: Memungkinkan pembelian Saham AS (seperti Apple, Nvidia) dan indeks S&P 500.
- Multi-Aset: Anda bisa menyeimbangkan portofolio saham dengan Emas Digital (aset safe haven) atau Crypto (aset pertumbuhan tinggi) tanpa perlu berpindah aplikasi.
- Keamanan Terjamin: Dana disimpan terpisah di bank kustodian berizin, diawasi regulator, dan data dilindungi enkripsi standar internasional.
- Fitur Pendukung: Dilengkapi Pocket, sinyal trading, dan berita pasar terkini untuk mendukung keputusan investasi Anda.
Untuk aset emas, Pluang berizin dan diawasi oleh OJK. Pluang bekerja sama dengan PT Pluang Emas Sejahtera yang telah memiliki izin sebagai Pedagang Fisik Emas Digital dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti).