Ilustrasi PGE area Kamojang. Foto: dok PGE.
Panas Bumi Jadi Andalan Energi Terbarukan, Investor Asing Melirik
Ade Hapsari Lestarini • 25 January 2026 16:40
Jakarta: Industri energi baru dan terbarukan (EBT) memegang peran yang sangat strategis dalam mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen. Sejalan dengan itu, pemerintah semakin gencar mendorong agenda transformasi bauran energi nasional melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
Dalam periode 2025-2034 pemerintah menargetkan perluasan kapasitas pembangkit EBT hingga 76 persen. Dorongan tersebut membuat sektor EBT kian menarik perhatian dari berbagai pihak, yang tercermin dari masuknya penyertaan modal asing serta investasi dari perusahaan-perusahaan besar.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menyampaikan ketertarikan investor global menunjukkan tingginya kepercayaan terhadap prospek pengembangan EBT di Indonesia. EBT dinilai memiliki potensi nilai ekonomi yang sangat tinggi, meski masih dihadapkan pada sejumlah tantangan.
"Salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang memiliki potensi sangat besar di Indonesia adalah panas bumi atau geothermal. Potensi panas bumi Indonesia tercatat sebagai yang terbesar kedua di dunia dengan kapasitas mencapai sekitar 24 gigawatt (GW). Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan pemerintah untuk menyelesaikan tantangan yang ada. Sejauh ini, berbagai kajian sudah dilakukan guna mendukung pengembangan panas bumi secara berkelanjutan," ungkap Telisa melalui keterangannya, dikutip Minggu, 25 Januari 2026.
Telisa menjelaskan berbagai tantangan yang masih dihadapi industri panas bumi Tanah Air mulai dari aspek teknis, regulasi, hingga pembiayaan.
"Tantangan-tantangan ini perlu diselesaikan secara bertahap agar pengembangan panas bumi dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan. Indonesia sudah memiliki kajian cukup banyak dan pemetaan-pemetaan mengenai potensi panas bumi," tambah Telisa.

.jpg)
Danantara percepat akselerasi pemanfaatan panas bumi
Di sisi pembiayaan, Telisa menilai pembentukan Danantara berpotensi menjadi katalis penting dalam mempercepat akselerasi pemanfaatan panas bumi guna mendukung perekonomian nasional. Telisa berharap PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (PGEO) sebagai pemain panas bumi terbesar di tingkat nasional, dapat membantu merumuskan dan mengimplementasikan solusi akan berbagai tantangan panas bumi.
PGE baru saja mengumumkan pergantian kepemimpinan, dengan Ahmad Yani resmi menjabat sebagai Direktur Utama yang sebelumnya dijabat oleh Julfi Hadi. Menurut Telissa, pergantian kepemimpinan di PGE dapat menjawab berbagai kendala operasional dalam pengembangan panas bumi.
"Pergantian kepemimpinan Pertamina Geothermal Energy saya pikir dilakukan untuk menyesuaikan agar ekosistem yang sedang dibangun sesuai dengan ekspektasi dari Danantara. Semoga dibawah kepemimpinan baru, berbagai kendala tersebut dapat diselesaikan dengan memastikan semua aspek terpenuhi," jelas Telisa.
Dilansir dari keterangan resmi, PGE memperkuat kepemimpinan perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Jakarta, Senin, 20 Januari 2026. Selain menunjuk Ahmad Yani sebagai Direktur Utama, PGE juga menetapkan Andi Joko Nugroho sebagai Direktur Operasi, posisi yang sebelumnya dijabat Ahmad Yani.
Sebelumnya, Ahmad Yani menjabat sebagai Direktur Operasi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk sejak 2023. Ia dikenal memiliki rekam jejak yang panjang dan pengalaman mendalam di industri panas bumi. Selama menjabat, Ahmad Yani berkontribusi signifikan dalam menjaga keandalan operasi dan meningkatkan efisiensi pembangkitan.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com