Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. (Anadolu Agency)
Iran Rilis Detail Kerusakan dan Korban Tewas Gelombang Protes Nasional
Willy Haryono • 24 January 2026 19:24
Teheran: Pemerintah Iran merilis data resmi terkait skala kerusakan dan jumlah korban dalam aksi protes nasional yang terjadi baru-baru ini, sebagai respons atas pernyataan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengenai penanganan kerusuhan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membagikan data tersebut melalui platform X pada Jumat lalu. Ia menyebut rangkaian aksi protes itu sebagai “kekacauan dari sebuah operasi teroris” yang terjadi di dalam negeri Iran.
Menurut Araghchi, kerusuhan menyebabkan kerusakan luas terhadap fasilitas publik dan properti swasta. Ia merinci, sebanyak 305 ambulans dan bus, 24 stasiun pengisian bahan bakar, 700 toko, 300 rumah warga, 750 bank, 414 gedung pemerintah, 749 kantor polisi, 120 pusat Basij, 200 sekolah, 350 masjid, 15 perpustakaan, serta dua gereja Armenia mengalami kerusakan.
Dikutip dari Antara, Sabtu, 24 Januari 2026, kerusakan lain juga dilaporkan terjadi pada 253 halte bus, 600 mesin anjungan tunai mandiri (ATM), dan sekitar 800 kendaraan pribadi.
Araghchi menyebut jumlah korban tewas dalam kerusuhan mencapai 3.117 orang, terdiri atas 2.427 warga sipil dan anggota aparat keamanan, serta 690 orang yang diidentifikasi pemerintah sebagai “teroris."
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan bahwa pendekatan Washington terhadap kerusuhan “sangat sederhana” dan menegaskan bahwa siapa pun yang menyerang rumah ibadah atau petugas federal akan dipenjara.
“Hormati hak masyarakat untuk beribadah dan menjalankan pekerjaan mereka tanpa diserang,” kata Vance. Ia menambahkan pemerintah AS akan menggunakan seluruh sumber daya federal untuk menghadapi demonstran yang melakukan kekerasan.
Pejabat Iran menegaskan kerusuhan di negaranya berbeda dari demonstrasi damai. Pemerintah menggambarkannya sebagai aksi kekerasan terkoordinasi yang menargetkan lembaga publik dan aparat keamanan.
Iran dilanda gelombang protes sejak 28 Desember, yang bermula di Grand Bazaar Teheran akibat anjloknya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi, sebelum meluas ke sejumlah kota lain.
Pemerintah Iran menuduh AS dan Israel mendukung kelompok bersenjata yang terlibat dalam kerusuhan tersebut. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan akan bertindak keras jika demonstran dibunuh, meski kemudian memuji Teheran karena dilaporkan membatalkan ratusan eksekusi yang dijadwalkan.
Baca juga: Iran Akan Anggap Serangan Apa Pun dari AS sebagai Deklarasi Perang Terbuka