Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional Joe Kent yang mengundurkan diri. Foto: CNN
Pejabat Intelijen Trump Mundur dan Sebut Iran Tidak Menunjukkan Ancaman
Fajar Nugraha • 18 March 2026 15:48
Washington: Seorang pejabat tinggi intelijen Amerika Serikat yang ditunjuk oleh Presiden Donald Trump, Joe Kent, resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Selasa, 17 Maret 2026.
Langkah mendadak ini diambil sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintahan Trump mengenai perang dengan Iran.
Kent menjabat sebagai Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur. Melalui surat pengunduran diri yang diunggah di media sosial X, ia secara terbuka membantah alasan pemerintah dalam memulai konflik tersebut.
Alasan Pengunduran Diri dan Tuduhan Intervensi
Joe Kent menyatakan bahwa ia tidak dapat mendukung perang yang sedang berlangsung karena merasa nuraninya terganggu. Ia menegaskan bahwa ancaman dari Iran yang diklaim pemerintah sebenarnya tidak ada."Iran tidak menimbulkan ancaman nyata bagi bangsa kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi Amerika yang kuat," tulis Kent dalam surat pengunduran dirinya, dikutip dari media CNN, Selasa, 17 Maret 2026.
Ia juga menuduh adanya upaya penyesatan informasi yang dilakukan oleh pejabat Israel dan media untuk menyeret AS ke dalam konflik. Kent membandingkan situasi ini dengan taktik yang digunakan saat memicu perang Irak di masa lalu.
Respons Donald Trump dan Pejabat Gedung Putih
Presiden Donald Trump menanggapi pengunduran diri tersebut dengan menyebutnya sebagai hal yang baik. Trump justru mengejek Kent sebagai sosok yang lemah dalam urusan keamanan dan tidak cukup cerdas untuk memahami ancaman.Wakil Presiden JD Vance dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dilaporkan hadir saat Kent menyampaikan alasan pengunduran dirinya. Gabbard kemudian menegaskan bahwa keputusan akhir mengenai status ancaman nasional sepenuhnya berada di tangan Presiden sebagai Panglima Tertinggi.
Perpecahan di Lingkungan Internal MAGA
Pengunduran diri Kent menyoroti keretakan di antara pendukung utama gerakan “Make America Great Again” (MAGA) terkait kebijakan luar negeri. Tokoh seperti Tucker Carlson dan Megyn Kelly mulai melontarkan kritik, meskipun mayoritas pemilih Republik tetap mendukung serangan ke Iran.Data jajak pendapat menunjukkan bahwa sekitar 90 persen pendukung setia MAGA masih berdiri di belakang keputusan Trump. Namun, di tingkat elit, perdebatan mengenai bukti intelijen yang membenarkan perang tersebut terus memanas.
Sebelum menjabat, Kent merupakan veteran militer dengan 11 tur tempur dan mantan perwira CIA. Ia memiliki latar belakang pribadi yang tragis karena istrinya gugur dalam serangan bom bunuh diri di Suriah pada 2019.
(Keysa Qanita)