Pengungsi di Yaman. (Anadolu)
300 Orang Tewas dalam Bentrokan antara Pemerintah Yaman dan Houthi
Riza Aslam Khaeron • 7 September 2026 13:51
Aden: Jumlah korban tewas akibat bentrokan sengit antara pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui PBB, melawan kelompok pemberontak Houthi telah melampaui 300 orang, menurut laporan AFP yang dikutip France24 pada Minggu, 6 September 2026.
Pertempuran yang berlangsung selama beberapa hari ini menjadi bentrokan paling mematikan di Yaman selatan sejak runtuhnya gencatan senjata tahun 2022 pada Juli lalu.
Pertempuran dipicu oleh serangan kelompok Houthi pada Kamis, 3 September 2026. Serangan tersebut bertujuan memutus akses menuju kota pelabuhan Mokha yang dikuasai pemerintah, wilayah yang telah dihujani tembakan selama berminggu-minggu, serta membuka jalan menuju area yang berbatasan dengan Selat Bab al-Mandab di pintu masuk selatan Laut Merah.
Seorang pejabat militer pemerintah mengonfirmasi kepada AFP bahwa pihak pemberontak berhasil "memutus jalan yang menghubungkan Taiz ke Mokha" pada Sabtu malam.
Meskipun pertempuran sempat mereda pada Minggu dini hari, pejabat militer dari pemerintahan yang berbasis di Aden menyatakan bahwa pasukan pemerintah "mampu membangun posisi mereka di utara Hays setelah maju di daerah tersebut."
Namun, ia menambahkan bahwa Houthi terus merangsek ke sebelah barat Taiz, tepatnya di selatan Hays, dalam dorongan mereka menuju Bab al-Mandab.
Dua pejabat militer dari pasukan pemerintah melaporkan kepada AFP bahwa 84 tentara tewas sejak Sabtu siang hingga Minggu dini hari, sebagian besar akibat serangan rudal. Sementara itu, empat sumber militer Houthi menyebutkan 57 pejuang mereka tewas dalam rentang waktu yang sama.
Secara keseluruhan, akumulasi data AFP dari sumber militer dan medis kedua pihak mengonfirmasi bahwa lebih dari 300 kombatan serta beberapa warga sipil telah tewas sejak serangan Houthi dimulai.
Ribuan Warga Mengungsi

Peta wilayah yang dikuasai Houthi (hijau) dan pemerintah Yaman (ungu). (Anadolu)
Eskalasi pertempuran di Maqbanah dan Jabal Habashi, Provinsi Taiz, memaksa warga sipil melarikan diri. Pada Sabtu, sejumlah keluarga berlindung di kamp pengungsian internal Al-Bareen. Pada Minggu, jurnalis AFP melaporkan para pengungsi tiba membawa kasur, ternak, dan perlengkapan seadanya untuk mendirikan tempat penampungan di kamp lain di kawasan tersebut.
"Tembakan datang dari atas dan dari bawah. Mereka mengepung kami dari segala arah, kami melarikan diri bersama anak-anak kami bahkan tanpa sempat memakai sepatu kami," kata Rawdhah Hasan, warga yang mengungsi dari Maqbanah kepada AFP.
Kantor PBB untuk Koordinasi Kemanusiaan (OCHA) melaporkan pada Jumat, 4 September 2026 bahwa sekitar 1.790 rumah tangga terpaksa mengungsi akibat "tembakan hebat dan bentrokan" di distrik Maqbanah dan Jabal Habashi.
Melalui juru bicaranya, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan "sangat prihatin dengan bentrokan militer yang sedang berlangsung." Ia memperingatkan adanya "dampak politik, ekonomi, dan keamanan yang menghancurkan bagi Yaman."
Potensi Eskalasi
Adam Baron dari lembaga pemikir New America di AS menyatakan bahwa serangan Houthi sejak Kamis telah "menghancurkan sebagian besar dari apa yang tersisa dari gencatan senjata Yaman.""Segalanya tampaknya semakin menuju ke jalur eskalasi dengan sedikit potensi jalan keluar," sebutnya.
Kondisi ini diperparah oleh penutupan Selat Hormuz bagi kapal komersial oleh Iran, yang menempatkan jalur sempit Bab al-Mandab sebagai rute transit vital yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Sebelumnya pada bulan Juli, gencatan senjata di Yaman runtuh setelah kelompok Houthi menyambut kedatangan pesawat Iran di ibu kota Sanaa. Insiden tersebut memicu gelombang serangan balasan, diikuti pengumuman blokade maritim oleh Houthi terhadap Arab Saudi serta penetapan target pada kapal-kapal dan wilayah Saudi.