Bangladesh Gelar Pemakaman Kenegaraan untuk Mantan PM Khaleda Zia

Mantan Perdana Menteri Bangladesh Khaleda Zia wafat pada usia 80 tahun. Foto: DDnews

Bangladesh Gelar Pemakaman Kenegaraan untuk Mantan PM Khaleda Zia

Muhammad Reyhansyah • 1 January 2026 17:10

Dhaka: Bangladesh memberikan penghormatan terakhir kepada mantan Perdana Menteri Khaleda Zia melalui pemakaman kenegaraan pada Rabu, 31 Desember 2025, yang dihadiri lautan pelayat. Prosesi tersebut menjadi simbol perpisahan bagi sosok sentral yang selama puluhan tahun membentuk dinamika politik negara Asia Selatan berpenduduk sekitar 170 juta jiwa itu.

Khaleda Zia, perempuan pertama yang menjabat sebagai perdana menteri Bangladesh, meninggal dunia pada Selasa dalam usia 80 tahun. Pemerintah menetapkan masa berkabung nasional, dengan bendera setengah tiang dikibarkan di berbagai tempat.

Baca Juga :

Khaleda Zia: Dari Ibu Rumah Tangga ke Ikon Politik Bangladesh

Ribuan personel keamanan berjajar di sepanjang jalan ketika jenazah Zia diarak melintasi ibu kota Dhaka menggunakan kendaraan yang dihiasi warna bendera nasional. Kerumunan besar memadati kawasan sekitar gedung parlemen dan ruas-ruas jalan menuju lokasi tersebut, dengan para pelayat mengibarkan bendera Bangladesh serta bendera Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) yang dipimpinnya.

Doa bersama digelar di hadapan peti jenazah, di tengah suasana haru. Minhaz Uddin, pensiunan pejabat pemerintah berusia 70 tahun, mengaku datang bersama cucunya meski tidak pernah memilih Zia dalam pemilu.

“Saya datang hanya untuk mengucapkan selamat jalan kepada seorang politisi senior yang jasanya akan selalu dikenang,” ujarnya.

Sharmina Siraj, 40 tahun, menyebut Khaleda Zia sebagai sosok inspiratif, khususnya bagi perempuan. Ia menyoroti kebijakan tunjangan pendidikan bagi anak perempuan yang pernah diperkenalkan Zia, yang menurutnya “memberikan dampak besar bagi kehidupan anak-anak perempuan kami”.

Warisan Politik di Tengah Transisi Kekuasaan

Mengutip The Peninsula, Kamis, 1 Januari 2026, meski selama bertahun-tahun bergulat dengan masalah kesehatan dan sempat dipenjara, Khaleda Zia sebelumnya menyatakan tekad untuk tetap berkampanye dalam pemilu yang dijadwalkan pada 12 Februari mendatang. Pemilu ini menjadi yang pertama sejak gelombang pemberontakan massal pada 2024 menggulingkan rival politik utamanya, Sheikh Hasina.

BNP dinilai sebagai salah satu kandidat terkuat dalam kontestasi tersebut. Putra Zia, Tarique Rahman, yang berusia 60 tahun, baru kembali ke Bangladesh pekan lalu setelah 17 tahun hidup di pengasingan dan disebut-sebut berpeluang menjadi perdana menteri jika partainya meraih mayoritas.

“Dia telah tiada, tetapi warisannya tetap hidup, begitu pula BNP,” ujar Jenny Parvez, 37 tahun, yang menempuh perjalanan berjam-jam bersama keluarganya untuk menyaksikan iring-iringan jenazah.

Pemerintahan sementara yang dipimpin peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus menetapkan tiga hari berkabung nasional serta menyelenggarakan pemakaman kenegaraan penuh. Yunus mengatakan Bangladesh telah “kehilangan seorang penjaga besar”.

Jenazah Khaleda Zia kemudian dimakamkan di samping makam mendiang suaminya, Ziaur Rahman, mantan presiden Bangladesh yang tewas terbunuh pada 1981. Upacara pemakaman diiringi peletakan karangan bunga oleh para pemimpin dan anggota angkatan bersenjata, serta bunyi terompet penghormatan terakhir.


Penghormatan Terakhir

Dalam pernyataan tertulis, Tarique Rahman menyebut bahwa “seluruh negeri berduka atas kepergian sosok penuntun yang membentuk aspirasi demokrasi Bangladesh”. Ia menambahkan bahwa ibunya “mengalami penangkapan berulang, penolakan perawatan medis, dan tekanan tanpa henti”, namun “ketangguhannya tak pernah bisa dipatahkan”.

Khaleda Zia sempat dilarikan ke rumah sakit pada akhir November akibat berbagai penyakit yang dideritanya. Meski kondisinya terus menurun, beberapa jam sebelum wafat, para kader partai masih menyerahkan berkas pencalonan atas namanya untuk tiga daerah pemilihan.

Dari luar negeri, Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan harapan agar “visi dan warisan” Zia tetap membimbing hubungan bilateral kedua negara, meski relasi New Delhi dan Dhaka memburuk sejak kejatuhan Hasina. Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar turut menghadiri prosesi tersebut dan menyampaikan “belasungkawa terdalam” kepada Tarique Rahman.

Sementara itu, Sheikh Hasina yang dijatuhi hukuman mati secara in absentia pada November atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan kini bersembunyi di India menyampaikan doa melalui pernyataan yang dibagikan oleh Partai Liga Awami yang telah dibubarkan.

“Saya berdoa agar arwah Begum Khaleda Zia memperoleh kedamaian dan pengampunan abadi,” demikian pernyataan Hasina.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)