Pengecekan alat peringatan dini atau early warning system (EWS) banjir di Kota Yogyakarta. Dokumentasi/ Pemkot Yogyakarta.
Pemkot Yogyakarta Perluas Alat Pemberi Peringatan Dini Banjir
Ahmad Mustaqim • 14 September 2026 14:33
Yogyakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta memperluas informasi peringatan dini banjir. Tidak hanya menggunakan alat peringatan dini atau early warning system (EWS) banjir maupun komunikasi jaringan radio handy talky (HT), melainkan melalui jaringan seluler.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, mengatakan saat ini total ada 36 EWS banjir yang dipasang berbagai sungai, di antaranya Sungai Gajah Wong, Code, Belik, Winongo dan Buntung serta di Ngentak Sleman hulu Sungai Code. EWS, kata dia, berfungsi memberikan peringatan dini banjir dengan bunyi sirine dan informasi dari BPBD Kota Yogyakarta terkait tindakan yang harus dilakukan masyarakat di bantaran sungai.
"Pemkot Yogyakarta sudah menambah ews secara bertahap selama beberapa tahun sebelumnya. Jadi tahun ini kami tidak akan menambah EWS dan mengoptimalkan yang ada, tapi tingkat cakupan informasi terkait peringatan dini banjir akan diperluas. Tidak hanya lewat komunikasi radio, tapi juga lewat jaringan seluler," kata Nur Hidayat di Yogyakarta, Senin, 14 September 2026.

Pengecekan alat peringatan dini atau early warning system (EWS) banjir di Kota Yogyakarta. Dokumentasi/ Pemkot Yogyakarta.
"Ke depan, kami ingin informasi telemetri atau debit air yang ada di utara (hulu sungai) ini bisa langsung disampaikan ke masyarakat. Lewat komunikasi radio dan jaringan seluler. Jadi nanti kita buat grup komunikasi seperti WA. Informasi ini bila masyarakat juga tahu sendiri lebih baik," jelasnya.
Ia menyatakan teknologi akan ditingkatkan untuk memperluas informasi peringatan dini banjir kepada masyarakat. Pihaknya menegaskan peringatan dini bencana suatu hal yang vital sehingga harus digaungkan dan disosialisasikan kepada masyarakat, termasuk harus bisa memahami informasi EWS agar masyarakat bisa segera menyelamatkan diri.
Di sisi lain, saat ini sudah terbentuk 169 KTB atau di seluruh kampung di Kota Yogyakarta. Ia menyebut edukasi berupa pelatihan kesiapsiagaan hingga simulasi bencana diadakan di KTB-KTB.
"Karena yang bisa menyelamatkan itu diri kita sendiri. Ketika peringatan dini itu sudah bisa menyampaikan informasi cepat kepada publik dan kita bisa memahami langkah-langkah penyelamatan, insyaallah kita juga akan selamat," ujarnya.
Sementara Ketua Tim Kerja Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BPBD Kota Yogyakarta, Grezia Eleganza Nur Pradani mengatakan perluasan informasi peringatan dini melalui jaringan seluler menjadi salah satu hal yang dipersiapkan BPBD Kota Yogyakarta. Menurut dia, BPBD Kota Yogyakarta terus memperkuat koordinasi dengan instansi terkait, termasuk pihak yang berwenang dan penyedia jaringan seluler.
"Jadi ini merupakan proses yang perlu dibangun dan diperkuat secara bertahap agar ketika terjadi kondisi darurat, informasi dapat tersampaikan secara cepat dan efektif. Yang utama bukan hanya bagaimana pesan bisa dikirim secara cepat dan luas. Tetapi juga memastikan informasi tersebut akurat, tepat sasaran, mudah dipahami masyarakat, dan memberikan arahan yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan," kata Grez.