Ilustrasi - Nelayan berlayar menaiki perahu tradisional di perairan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Selasa (28/7/2026). ANTARA/Sugiharto Purnama
BMKG Peringatkan Ancaman Gelombang 6 Meter di Selatan Selat Lombok
Whisnu Mardiansyah • 14 September 2026 21:54
Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini potensi gelombang laut setinggi 4-6 meter di perairan bagian selatan Selat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM), Ari Wibianto, mengatakan kondisi tersebut diperkirakan mulai terjadi pada 15 September 2026 dan berpotensi berlanjut selama beberapa hari.
"Kondisi gelombang tidak konstan sepanjang hari dan mengikuti pola pergerakan angin," ujarnya di Mataram, seperti dilansir Antara, Senin, 14 September 2026.
Ari menjelaskan potensi gelombang tinggi dipicu peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan. Kondisi tersebut berkaitan dengan perbedaan tekanan udara yang cukup signifikan antara pusat tekanan tinggi di sekitar Australia dan wilayah Asia yang memiliki tekanan udara relatif lebih rendah.
Baca Juga :
BMKG: Waspadai Gelombang Tinggi 14-17 September
Perbedaan tekanan udara tersebut dapat memperkuat hembusan angin di wilayah Indonesia bagian selatan. Angin yang bertiup kuat dan berlangsung secara persisten di atas permukaan laut kemudian berpotensi meningkatkan pertumbuhan gelombang.
"Potensi gelombang tinggi ini diprakirakan masih dapat terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan, kemudian secara bertahap berangsur menurun," kata Ari.

Wisatawan berfoto dengan latar belakang ombak besar yang menggulung di Pantai Parangtritis, Kalurahan Parangtritis, Kapanewon Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (20/8/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso.
BMKG mengimbau nelayan serta pengguna jasa pelayaran meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi di sejumlah perairan NTB.
Ari meminta kondisi angin, gelombang, dan cuaca menjadi pertimbangan sebelum nelayan maupun pengguna jasa pelayaran menentukan rute dan waktu perjalanan. Penyesuaian aktivitas dengan kondisi perairan juga perlu dilakukan untuk mengantisipasi risiko selama berada di laut.
"Selalu pantau informasi cuaca maritim dan peringatan dini BMKG ZAM sebelum dan selama melakukan aktivitas di sekitar laut," kata Ari.