Pedagang Kerak Telor di Jakarta Fair Kantongi Omzet hingga Rp30 Juta Sebulan

Pedagang kerak telor raup untung hingga Rp30 juta dalam ajang Jakarta Fair 2026. Foto: Metrotvnews.com/Ade Hapsari.

Pedagang Kerak Telor di Jakarta Fair Kantongi Omzet hingga Rp30 Juta Sebulan

Ade Hapsari Lestarini • 10 July 2026 19:16

Jakarta: Kerak telor masih menjadi salah satu kuliner tradisional yang diburu pengunjung Jakarta Fair Kemayoran (JFK) 2026. Di balik ramainya antrean pembeli, para pedagang mengaku mampu meraup omzet hingga puluhan juta rupiah setiap bulan, meski kondisi ekonomi belum sepenuhnya pulih.

Ifan, pedagang kerak telor yang telah berjualan selama hampir 15 tahun, mengatakan usaha tersebut merupakan warisan keluarga yang terus dipertahankan sebagai bagian dari pelestarian kuliner khas Betawi.

"Ini memang usaha turun-temurun. Kami orang Betawi, jadi kalau bukan kami yang meneruskan, siapa lagi," kata Ivan kepada Metrotvnews.com, saat ditemui di Jakarta Fair Kemayoran.

Selama mengikuti Jakarta Fair, Ivan mengaku melihat antusiasme pengunjung tahun ini lebih tinggi dibandingkan penyelenggaraan tahun lalu. Menurutnya, durasi penyelenggaraan yang lebih panjang juga memberikan peluang lebih besar bagi pelaku UMKM kuliner untuk meningkatkan penjualan.

"Kalau sekarang menurut saya lebih ramai dibanding tahun lalu. Hari biasa pun tetap ada pembeli," ujar dia.

Di luar penyelenggaraan Jakarta Fair, Ifan tidak membuka lapak tetap. Ia lebih banyak menerima pesanan untuk berbagai acara, seperti pernikahan, hajatan, hingga kegiatan perusahaan.

Untuk layanan tersebut, pemesanan dilakukan dalam jumlah tertentu. Satu peti telur ayam, misalnya, dapat menghasilkan sekitar 160 porsi kerak telor yang dimasak langsung di lokasi acara menggunakan gerobak tradisional.


Pedagang kerak telor raup untung hingga Rp30 juta dalam ajang Jakarta Fair 2026. Foto: Metrotvnews.com/Ade Hapsari.
 

 

Omzet pendapatan tidak menentu


Dari sisi pendapatan, Ivan mengaku omzet usahanya tidak menentu. Namun, rata-rata penerimaan dapat mencapai sekitar Rp30 juta per bulan, tergantung tingkat kunjungan dan musim acara.

"Kalau sedang ramai atau akhir pekan, omzet harian bisa sekitar Rp3 juta. Tapi kalau hari biasa tentu berbeda," kata dia.

Harga kerak telor yang dijual dibanderol Rp30 ribu per porsi menggunakan telur ayam dan Rp35 ribu untuk varian telur bebek. Meski menghadapi tantangan daya beli masyarakat, Ivan memilih mempertahankan kualitas rasa sebagai strategi utama agar usahanya tetap bertahan.

"Kalau strategi kami ya menjaga kualitas. Yang penting orang menikmati masakan kami. Itu yang membuat pelanggan datang lagi," ujar dia.

Ia mengakui kondisi ekonomi saat ini turut berdampak terhadap pelaku usaha kecil. Namun, menurutnya, setiap pelaku usaha harus mampu beradaptasi dengan situasi yang ada.

"Semua pasti terdampak. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Yang penting tetap semangat mencari rezeki," ucapnya.

Selain mengandalkan penjualan selama Jakarta Fair, Ivan juga memiliki dua karyawan yang bergantian membantu proses memasak. Menurutnya, membuat kerak telor membutuhkan keterampilan khusus agar tingkat kematangan dan cita rasa tetap terjaga.

Baginya, mempertahankan kualitas bukan hanya penting untuk menjaga pelanggan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan kuliner tradisional Betawi di tengah maraknya makanan modern.

Ivan berharap kondisi ekonomi nasional dapat semakin membaik sehingga daya beli masyarakat meningkat dan memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM, khususnya pedagang kuliner tradisional.

"Harapan kami ekonomi bisa lebih stabil. Kalau ekonomi membaik, tentu usaha kecil seperti kami juga ikut terbantu," kata dia.

(Ade Hapsari Lestarini)