Garis polisi dipasang di dekat lokasi penembakan massal di British Columbia, Kanada. (Anadolu Agency)
Remaja Perempuan 18 Tahun Diidentifikasi sebagai Pelaku Penembakan Massal Kanada
Willy Haryono • 12 February 2026 11:00
Vancouver: Kepolisian Kanada merilis identitas pelaku penembakan massal di sebuah sekolah di wilayah terpencil British Columbia, Kanada.
Pelaku diidentifikasi sebagai Jesse Van Rootselaar, remaja transgender perempuan berusia 18 tahun yang diketahui memiliki riwayat gangguan kesehatan mental.
Wakil Komisaris Polisi Kerajaan Kanada (RCMP), Dwayne McDonald, mengatakan pelaku ditemukan tewas di lokasi setelah menembak dirinya sendiri.
Selain korban di sekolah, polisi juga menemukan ibu pelaku berusia 39 tahun dan saudara tirinya yang berusia 11 tahun dalam keadaan tidak bernyawa di rumah mereka yang berada dekat sekolah.
Penyelidikan awal menunjukkan rangkaian kekerasan bermula di kediaman pelaku. Ia diduga membunuh kedua anggota keluarganya sebelum menuju sekolah. Seorang anggota keluarga lain berhasil melarikan diri dan meminta bantuan ke rumah tetangga.
Di sekolah, pelaku melepaskan tembakan secara acak. Delapan orang dilaporkan tewas, terdiri dari seorang guru berusia 39 tahun, lima siswa berusia 12–13 tahun, serta dua korban di rumah. Lebih dari 25 orang lainnya mengalami luka-luka. Sebagian besar korban ditemukan di perpustakaan sekolah, sementara satu korban ditemukan di tangga darurat.
Polisi tiba di lokasi dua menit setelah menerima panggilan darurat dan sempat ditembaki pelaku. Aparat menyita satu senjata api laras panjang dan sebuah pistol modifikasi dari tempat kejadian.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan belasungkawa nasional dan memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang di seluruh gedung pemerintah selama tujuh hari. Ia juga membatalkan rencana kunjungan diplomatik ke Nova Scotia dan Jerman.
Kota kecil Tumbler Ridge yang berpenduduk sekitar 2.700 jiwa kini diliputi suasana duka. Wali Kota Darryl Krakowka menyebut peristiwa tersebut sebagai tragedi yang mengguncang komunitas yang selama ini dikenal erat. Otoritas distrik sekolah menutup seluruh sekolah hingga akhir pekan untuk memberi waktu pemulihan trauma.
Insiden ini menjadi penembakan paling mematikan di Kanada sejak 2020. Meski negara tersebut memiliki regulasi senjata api yang ketat, tragedi ini kembali memicu perdebatan tentang penanganan kesehatan mental dan efektivitas pengawasan senjata. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Jarang Terjadi, Pelaku Penembakan Massal di Sekolah Kanada Seorang Perempuan