AS Bersiap Jadi Tuan Rumah Kesepakatan Damai RD Kongo–Rwanda

Pertempuran antara pasukan RD Kongo dan pemberontak M23 kerap membuat warga sipil terpaksa mengungsi. (Anadolu Agency)

AS Bersiap Jadi Tuan Rumah Kesepakatan Damai RD Kongo–Rwanda

Willy Haryono • 29 November 2025 10:41

Washington: Amerika Serikat (AS) bersiap menjadi tuan rumah pertemuan Presiden Republik Demokratik Kongo (DRC) Felix Tshisekedi dan Presiden Rwanda Paul Kagame untuk penandatanganan perjanjian damai terkait konflik di Kongo timur.

Pemerintah DRC pada Jumat lalu menyatakan Tshisekedi akan melakukan perjalanan ke AS pekan depan untuk menandatangani kesepakatan final tersebut, yang merupakan puncak dari upaya diplomatik selama berbulan-bulan yang diprakarsai Presiden AS Donald Trump.

Namun, pihak Kongo menegaskan bahwa penandatanganan kesepakatan itu bergantung pada penarikan dukungan Rwanda terhadap kelompok pemberontak M23. Hal itu disampaikan juru bicara Presiden Tshisekedi, Tina Salama, kepada The Associated Press.

Dilansir dari TRT World, Sabtu, 29 November 2025, konfirmasi Tshisekedi mengenai rencana penandatanganan pada 4 Desember itu disampaikan sehari setelah Presiden Kagame menyatakan optimismenya terhadap kesepakatan tersebut.

Meski demikian, Kagame mengingatkan bahwa perdamaian berkelanjutan di wilayah timur DRC hanya bisa terwujud apabila “pihak-pihak yang terlibat langsung benar-benar berkomitmen untuk mencapai hasil.”

Wilayah timur DRC selama bertahun-tahun dilanda pertempuran antara pasukan pemerintah dan lebih dari 100 kelompok bersenjata. Kelompok terkuat di antaranya adalah M23 yang didukung Rwanda.

Konflik meningkat tajam tahun ini setelah M23 merebut dua kota utama di kawasan tersebut, yakni Goma dan Bukavu, sehingga memperburuk krisis kemanusiaan yang sebelumnya sudah termasuk salah satu yang terbesar di dunia.

Integritas Wilayah Tak Bisa Ditawar

Para pakar PBB menyebutkan bahwa antara 3.000 hingga 4.000 pasukan pemerintah Rwanda dikerahkan di wilayah timur DRC dan beroperasi bersama M23. Rwanda membantah tudingan tersebut, namun menyatakan bahwa setiap tindakannya dalam konflik tersebut bertujuan melindungi wilayahnya sendiri.

Salama menegaskan bahwa kesepakatan damai harus dicapai tanpa adanya “pencampuran atau integrasi” pejuang M23 ke dalam struktur militer. Ia juga menyatakan bahwa penarikan pasukan Rwanda sebenarnya sudah disepakati dalam perjanjian sebelumnya yang ditandatangani pada Juni oleh menteri luar negeri kedua negara.

“Kami mengupayakan perdamaian dalam kerangka integrasi regional,” ujar Salama. “Yang tidak dapat ditawar bagi kami adalah keutuhan wilayah Republik Demokratik Kongo.”

Sementara itu, Kagame pada Kamis menyatakan kekhawatirannya bahwa otoritas Kongo telah mengingkari sejumlah kesepakatan sebelumnya dan terus mengubah posisi. Ia menegaskan bahwa keberhasilan perjanjian damai akan sangat bergantung pada komitmen kedua belah pihak yang bertikai.

“Sebagian dari proses ini tidak akan berhasil, bukan semata-mata karena kita bertemu di Washington atau karena Amerika Serikat terlibat, tetapi sampai pihak-pihak yang terlibat langsung benar-benar berkomitmen mencapai hasil akhir,” kata Kagame.

Baca juga:  RD Kongo dan M23 Sepakati Kerangka Perdamaian dalam Perundingan di Qatar

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
Viral!, 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(Willy Haryono)