Trump Sebut Venezuela Harus Diperbaiki Terlebih Dahulu Sebelum Gelar Pemilu

Presiden AS Donald Trump. (Anadolu Agency)

Trump Sebut Venezuela Harus Diperbaiki Terlebih Dahulu Sebelum Gelar Pemilu

Muhammad Reyhansyah • 6 January 2026 09:27

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Venezuela tidak akan menggelar pemilihan umum baru dalam 30 hari ke depan. Menurutnya, kondisi negara tersebut belum memungkinkan untuk menyelenggarakan proses demokrasi secara layak.

“Kami harus memperbaiki negara itu terlebih dahulu. Anda tidak bisa menggelar pemilu. Tidak mungkin rakyat bahkan bisa memberikan suara,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News dan dikutip Anadolu, Selasa, 6 Januari 2026.

Ia menambahkan bahwa pemulihan Venezuela membutuhkan waktu. “Ini akan memakan suatu periode. Kami harus merawat negara itu agar kembali sehat,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump pada Sabtu lalu mengklaim bahwa operasi militer Amerika Serikat telah berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Ibu Negara Cilia Flores. Trump juga menyatakan komitmen Washington untuk mengambil alih kendali sementara atas Venezuela, termasuk dengan pengerahan pasukan AS jika diperlukan.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang berperang dengan Venezuela. “Tidak, kami tidak,” katanya. “Kami berperang melawan orang-orang yang menjual narkoba. Kami berperang melawan mereka yang mengosongkan penjara ke negara kami dan mengirimkan para pecandu narkoba serta pasien rumah sakit jiwa ke negara kami.”

Dalam wawancara yang sama, Trump menyebut Amerika Serikat berpeluang membantu mensubsidi perusahaan minyak dalam upaya membangun kembali infrastruktur energi Venezuela. Ia memperkirakan proses tersebut dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari 18 bulan.

“Saya pikir kami bisa melakukannya dalam waktu yang lebih singkat dari itu, tetapi biayanya akan sangat besar,” kata Trump.

“Jumlah uang yang harus dikeluarkan sangat besar, dan perusahaan-perusahaan minyak akan menanggungnya terlebih dahulu, lalu mereka akan diganti oleh kami atau melalui pendapatan," lanjutnya.

NBC News melaporkan bahwa Trump menyebut sejumlah pejabat AS yang akan berperan dalam mengarahkan keterlibatan Amerika Serikat di Venezuela, termasuk Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, serta Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller.

“Itu kelompok yang lengkap. Mereka semua memiliki keahlian, keahlian yang berbeda-beda,” ujar Trump.

Kendali AS atas Venezuela

Ketika ditanya siapa yang pada akhirnya akan memegang kendali atas Venezuela, Trump memberikan jawaban singkat. “Saya.”

Sementara itu, Nicolas Maduro pada Senin menyatakan tidak bersalah di pengadilan federal New York atas berbagai dakwaan, termasuk narkoterorisme dan konspirasi impor kokain, seraya menegaskan bahwa dirinya masih merupakan pemimpin Venezuela. Pada hari yang sama, Wakil Presiden Delcy Rodríguez resmi dilantik sebagai presiden sementara setelah penangkapan Maduro.

Trump mengatakan Rodríguez telah bekerja sama dengan pejabat Amerika Serikat, namun ia menepis adanya komunikasi antara pihak AS dan sekutu Rodríguez sebelum penangkapan Maduro. “Tidak, itu tidak benar,” katanya, seraya menambahkan bahwa keputusan terkait apakah sanksi terhadap Rodríguez akan dipertahankan atau dicabut akan segera ditentukan.

Saat ditanya apakah ada kesepakatan dengan pejabat Venezuela untuk menyingkirkan Maduro, Trump menjawab, “Ya, karena banyak orang ingin membuat kesepakatan, tetapi kami memutuskan untuk melakukannya dengan cara ini.”

Ia enggan mengungkap apakah dirinya secara langsung berbicara dengan Rodríguez, namun menyebut bahwa Rubio “berbicara dengannya dengan lancar dalam bahasa Spanyol” dan bahwa hubungan keduanya “sangat kuat”.

Trump juga mengisyaratkan kemungkinan operasi militer kedua di Venezuela apabila Rodríguez menghentikan kerja sama dengan pejabat Amerika Serikat. Meski begitu, ia mengatakan tidak memperkirakan hal tersebut akan terjadi dan mengungkapkan bahwa ia semula menduga pengerahan ulang pasukan AS akan dibutuhkan lebih cepat.

“Kami siap melakukannya,” kata Trump. “Kami sebenarnya sudah mengantisipasinya.”

Selain itu, Trump membantah laporan Washington Post yang menyebut dirinya menyingkirkan tokoh oposisi Venezuela Maria Corina Machado dari kemungkinan memimpin negara tersebut karena ia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian tahun lalu.

“Dia seharusnya tidak memenangkan itu,” ujar Trump. “Namun tidak, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan keputusan saya.”

Sejumlah anggota parlemen dari kedua partai menyoroti bahwa Trump tidak meminta otorisasi baru dari Kongres untuk operasi militer yang dilakukan pada Sabtu pagi. Menanggapi hal tersebut, Trump mengatakan dirinya tidak memerlukan persetujuan Kongres untuk kembali mengirim pasukan Amerika Serikat.

“Kami mendapat dukungan yang baik secara kongresional,” katanya. “Dan Kongres tahu apa yang kami lakukan sejak awal. Mengapa mereka tidak mendukung kami?”

Baca juga:  Venezuela Lantik Presiden Interim usai Maduro Mengaku Tak Bersalah di Pengadilan AS

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)