Ilustrasi - Petugas kesehatan memberikan perawatan kepada warga di posko pengungsian korban gempa bumi NTT di Lapangan Barangkolong, Reo, NTT, Senin (17/8/2026). ANTARA FOTO/FIKRI YUSUF
BRIN Tekankan Pengendalian Penyakit Pascabencana Perlu Melihat Faktor Risiko
Siti Yona Hukmana • 20 August 2026 14:38
Jakarta: Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ristiyanto menekankan pola intervensi dan pengendalian penyakit pascabencana tidak bisa dilakukan secara seragam. Sebab, setiap jenis bencana alam memiliki karakteristik risiko bawaan yang sangat spesifik.
"Jadi untuk intervensi suatu bencana itu tidak satu paket untuk semua. Tapi kita harus melihat faktor risiko utamanya dan apa itu kejadian bencananya," kata Ristiyanto dilansir Antara, Kamis, 20 Agustus 2026.
"Karena kalau terjadi suatu outbreak sangat berbahaya bagi masyarakat," ujar Ristiyanto.
Untuk menekan laju penyebaran penyakit pes pascaerupsi gunung berapi, kata Ristiyanto, intervensi utamanya harus difokuskan secara penuh pada pengendalian hama dan populasi tikus yang kerap bermigrasi dari habitatnya yang rusak.
"Nah kalau erupsi, beda lagi. Erupsi Merapi, erupsi Bromo kemarin itu melakukan surveillance dan pengendalian tikus secara intensif. Bahkan dua minggu sekali waktu itu," ujar Ristiyanto.

Rumah Sakit Lapangan yang didirikan Kementerian Kesehatan. Foto: dok. Kemenkes.
Sebaliknya, pada bencana banjir, penanganan utama harus diarahkan pada sanitasi dasar, penyebaran larvasida untuk membunuh jentik nyamuk di genangan, serta pemberantasan sarang nyamuk, terutama di kawasan padat pengungsi. Sebab, banjir pasti akan memunculkan genangan.
"Berarti kemungkinan juga (pemberian) larvasida. Yang pernah saya lakukan di Aceh itu (pemberian) larvasida. Hampir semua genangan air harus dilarvasida," ucap Ristiyanto.
Sementara untuk bencana masif seperti tsunami, Ristiyanto menceritakan pengalamannya bahwa intervensi penyemprotan insektisida ke dalam rumah atau indoor residual spraying (IRS) wajib dilakukan secara menyeluruh dan tidak terbatas hanya di zona inti terdampak.
Dengan adanya perbedaan pendekatan pada tiap jenis bencana, Ristiyanto berharap para pengambil kebijakan dapat segera melakukan studi dinamika penularan secara cepat dan akurat, tanpa perlu menunggu terjadinya lonjakan kasus secara kasatmata.
"Deteksi risiko lebih dini, lakukan intervensi lebih cepat dan tepat sasaran untuk mencegah peningkatan kasus penyakit tular vektor dan reservoir penyakit pascabencana," ungkap Ristiyanto.