Dolar AS. Foto: Xinhua/U Aung.
Dolar AS Melemah, Digilas 6 Mata Uang Utama Dunia
Husen Miftahudin • 15 April 2026 08:40
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), di tengah laporan inflasi produsen AS yang tercatat jauh lebih baik dari perkiraan dan harapan lebih banyak pembicaraan gencatan senjata di Timur Tengah.
Mengutip Xinhua, Rabu, 15 April 2026, indeks dolar yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,25 persen menjadi 98,126.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro menguat menjadi USD1,1795 dari USD1,1728 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris naik menjadi USD1,3567 dari USD1,3477 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 158,74 yen Jepang, lebih rendah dari 159,50 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,7810 franc Swiss dari 0,7859 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga turun menjadi 1,3771 dolar Kanada dari 1,3800 dolar Kanada. Dolar AS melemah menjadi 9,1810 krona Swedia dari 9,2013 krona Swedia.
| Baca juga: Dolar AS Melempem, Investor Banyak Beralih ke Pasar Saham |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Indeks harga produsen naik 0,5%
Meskipun konflik Timur Tengah mendominasi berita utama, perhatian pada perdagangan Selasa juga tertuju pada data inflasi. Menurut Biro Statistik Tenaga Kerja AS, indeks harga produsen (PPI) pada Maret 2026 naik 0,5 persen (mtm) dan 4,0 persen (yoy), di bawah perkiraan konsensus sebesar 1,1 persen dan 4,6 persen secara berturut-turut. PPI inti naik 0,1 persen (mtm) dan 3,8 persen (yoy).
Peningkatan angka utama selama 12 bulan merupakan yang terbesar sejak Februari 2023, terutama didorong oleh lonjakan sebanyak 8,5 persen (mtm) pada indeks harga energi.
Data PPI agak mirip dengan data indeks harga konsumen (CPI) pada Maret yang dilaporkan pada Jumat lalu, karena kedua laporan tersebut menunjukkan dampak besar dari melonjaknya harga minyak akibat perang Iran, tetapi tidak terlalu besar pada angka inti, yang tidak termasuk makanan dan energi.
Dampak perang terhadap proyeksi ekonomi juga terlihat dalam data global pada Selasa. Menurut prospek ekonomi dunia terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF), pertumbuhan global kini diproyeksikan melambat menjadi 3,1 persen tahun ini dan 3,2 persen pada 2027.