Ilustrasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Foto: dok. Antara.
BNPB Jelaskan Penggunaan Dry Ice untuk Kurangi Asap Karhutla
Gabriella Thesa Widiari • 22 October 2026 20:30
Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menegaskan penggunaan teknologi dry ice dalam operasi modifikasi cuaca tidak ditujukan untuk memadamkan titik api. Pemanfaatan teknologi tersebut difokuskan untuk mengurai pekatnya kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk memulihkan jarak pandang.
"Jadi dry ice yang kita buat saat ini adalah untuk mengurangi visibility yang rendah tersebut," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dilansir dari Antara, Kamis, 22 Oktober 2026.
Penyemaian dry ice dilakukan pada ketinggian 5.000 hingga 7.000 kaki di bawah lapisan asap untuk mendinginkan serta mengurai partikel polusi. Langkah ini dilakukan agar sinar matahari menembus ke permukaan sekaligus menekan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat.

Ilustrasi dry ice untuk kurangi asap pekat karhutla. Foto: Antara.
Di Sumatra Selatan, penyemaian 4.000 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam berhasil meningkatkan jarak pandang dari 300 meter menjadi 2.800 meter pada sore hari. Sementara di Kalimantan Tengah, sebanyak sembilan sorti penerbangan telah menyebarkan 4.400 kilogram dry ice dan 3.800 kilogram garam.
Berton menambahkan bahwa pemulihan jarak pandang sangat penting untuk mendukung kelancaran aktivitas penerbangan di daerah terdampak. Pemerintah memastikan operasi modifikasi cuaca terus dioptimalkan secara terintegrasi bersama seluruh personel pemadam darat.