Satu Kru Helikopter Jatuh saat Padamkan Karhutla di Kalteng Masih Dicari

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan. Foto: Metrotvnews.com/Arini.

Satu Kru Helikopter Jatuh saat Padamkan Karhutla di Kalteng Masih Dicari

Anggi Tondi Martaon • 5 November 2026 18:03

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi satu kru helikopter pengebom air milik TNI AD yang jatuh di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah hingga kini masih dalam proses pencarian. Tugas tersebut dilakukan oleh tim SAR gabungan.

"Hingga saat ini, satu personel masih dalam upaya pencarian. Atas nama Sertu Heri Prasetyo," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, dikutip dari Antara, Kamis, 5 November 2026.

Berton menyampaikan, kecelakaan terjadi saat helikopter dengan nomor registrasi HA-5235 milik Dinas Penerbangan TNI Angkatan Darat (Dispenad) menjalankan misi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Helikopter tersebut kecelakaan pada Rabu, 4 November 2026.
 


"Kami sampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya bagi para personel yang menjadi korban dalam kejadian ini," ungkap Berton.

Selain itu, Berton meralat informasi yang sempat disampaikan melalui media sosial BNPB yang menyebut tiga personel meninggal dunia. Namun berdasarkan data terbaru yang mereka terima tercatat dua personel TNI yang gugur dalam tugas, sedangkan satu personel masih dicari, dan kemudian selebihnya sudah dievakuasi yang sudah dalam penanganan medis.

Ia memastikan bahwa tidak ada pengurangan dukungan armada udara maupun darat untuk tim satuan tugas yang ditugaskan, baik di Kalimantan Tengah maupun daerah terdampak lain. Sehingga operasi penanganan karhutla tetap berjalan optimal.


Ilustrasi helikopter. Foto: Anadolu.

Terkait dengan pengerahan kekuatan nasional dalam penanganan darurat karhutla, BNPB mencatat total armada udara yang dikerahkan per 5 November 2026 berjumlah 46 unit yang tersebar di 12 provinsi.

Armada tersebut terdiri atas 18 pesawat untuk patroli dan operasi modifikasi cuaca (OMC) serta 28 helikopter khusus pengebom air yang berasal dari dukungan BNPB (32 unit), TNI (10), serta pihak korporasi dan kementerian terkait (4).

(Anggi Tondi)