Kapal Supertanker Minyak Meledak usai Tabrak Ranjau di Selat Hormuz

Ledakan ranjau laut di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Kapal Supertanker Minyak Meledak usai Tabrak Ranjau di Selat Hormuz

Willy Haryono • 11 October 2026 09:21

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa sebuah kapal supertanker minyak meledak usai menabrak ranjau laut saat berupaya meninggalkan Selat Hormuz melalui jalur selatan yang tidak diizinkan.

Dalam pernyataannya pada Sabtu, 10 Oktober 2026, IRGC mengatakan kapal tersebut merupakan supertanker yang mampu mengangkut sekitar 2 juta barel minyak. Kapal itu disebut mematikan sistem navigasinya sebelum mencoba melintasi jalur strategis tersebut.

Mengutip dari Anadolu Agency, IRGC mengatakan kapal menabrak ranjau ketika berusaha keluar melalui jalur alternatif tersebut hingga memicu ledakan yang terlihat dari wilayah pesisir.

IRGC memperingatkan bahwa "nasib setiap kapal yang mengabaikan aturan di Selat Hormuz adalah kobaran api yang mengerikan."

Sejauh ini belum ada informasi mengenai identitas kapal, awak kapal, maupun kemungkinan adanya korban dalam insiden tersebut.

Sehari sebelumnya, televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan besar di Selat Hormuz. Media tersebut mengutip sumber militer yang mengatakan kapal-kapal tanker minyak yang menggunakan jalur yang dianggap tidak diizinkan oleh Teheran kemungkinan telah menabrak ranjau di jalur selatan.

Iran pada 12 Juli mengumumkan kembali menutup Selat Hormuz setelah Amerika Serikat (AS) melanjutkan serangan terhadap Iran pada 8 Juli.

Teheran juga mengancam akan menargetkan kapal-kapal yang menggunakan jalur selain yang ditetapkan otoritas Iran atau mencoba melintasi selat tersebut tanpa izin.

AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari yang menurut Teheran menewaskan lebih dari 3.000 orang. Iran kemudian melakukan serangan balasan yang menewaskan warga Amerika dan Israel sebelum gencatan senjata tercapai pada April.

AS selanjutnya kembali melancarkan serangan terhadap sejumlah situs di Iran di tengah kebuntuan negosiasi antara Washington dan Teheran, meskipun kedua negara telah menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Juni.

Perundingan hingga kini masih menemui jalan buntu akibat perbedaan pendapat mengenai navigasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi pasokan energi dan komoditas global.

Baca juga: Kapal Berbendera Panama Dihantam Proyektil di Selat Hormuz, 11 ABK Terluka

(Willy Haryono)