Rocky Gerung Tegaskan Tugas Wantimpres Tak Sekadar Mengkritik

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung. (Dokumentasi/ Metro TV)

Rocky Gerung Tegaskan Tugas Wantimpres Tak Sekadar Mengkritik

Silvana Febiari • 2 October 2026 16:41

Jakarta: Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung menegaskan tugas Wantimpres bukan sekadar mengkritik kebijakan pemerintah. Menurutnya, Wantimpres memiliki fungsi memberikan pertimbangan secara kritis kepada Presiden.

"Bukan mengkritik. Dewan ini justru fungsinya kritis, bukan kritik ya, beda tuh. Kritis terhadap kebijakan," tegas Rocky di Istana Negara, Jumat, 2 Oktober 2026. 

Ia menjelaskan, hasil pertimbangan Wantimpres nantinya menjadi masukan bagi Presiden. Sementara itu, keputusan akhir tetap berada di tangan Presiden.


"Tugas Dewan adalah mengingat dan menimbang, dan memutuskan penetapannya ada pada Presiden. Jadi kita membuat pertimbangan, user-nya adalah Bapak Presiden," ujar Rocky.

Rocky juga menjelaskan Wantimpres memiliki kedudukan etis, bukan teknis. Dewan bertugas melihat dampak dari sebuah kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan agar tetap sesuai dengan visi Presiden.

"Pesan khusus diberikan oleh Bapak Presiden bahwa Dewan Pertimbangan punya kedudukan etis, bukan teknis. Apa itu kedudukan etis? Kemampuan untuk melihat ekses-ekses dari kebijakan dan memberi pertimbangan tentang arah dari kebijakan itu supaya sesuai dengan visi Presiden," kata Rocky.

Ia menuturkan Wantimpres memiliki fungsi untuk memantau situasi politik dan kebudayaan. Setiap anggota memiliki tanggung jawab etis dalam memberikan pertimbangan kepada Presiden.

"Bukan tanggung jawab kelompok, tanggung jawab etis. Karena itu pertanggungjawaban pertama adalah kemampuan untuk mengambil jarak dari peristiwa-peristiwa konkret," ungkap Rocky.


Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Rocky Gerung. (Dokumentasi/ Metro TV)


Rocky menilai anggota Wantimpres tidak hanya dituntut merespons persoalan sehari-hari. Menurutnya, diperlukan kemampuan untuk melakukan evaluasi dan melihat kemungkinan persoalan yang akan dihadapi Indonesia ke depan.

"Diperlukan kontemplasi, diperlukan evaluasi, diperlukan bahkan kemampuan untuk berfantasi tentang masa depan Republik," ucap Rocky.

(Silvana Febiari)