Israel Perluas Proyek Militer di Dataran Golan, Suriah Layangkan Kecaman

Suriah mengecam proyek penggalian dan pembangunan jalan militer Israel di dekat garis pemisah Golan. (Anadolu Agency)

Israel Perluas Proyek Militer di Dataran Golan, Suriah Layangkan Kecaman

Muhammad Reyhansyah • 5 October 2026 16:33

Damaskus: Suriah mengecam keras aktivitas penggalian Israel di dekat garis pemisah dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki, dan menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap perjanjian pelepasan pasukan 1974.

Dalam sebuah pernyataan, Minggu, 4 Oktober 2026, Kementerian Luar Negeri Suriah mengecam pengerjaan proyek yang dikenal sebagai “Sofa 53” setelah pasukan Israel kembali melakukan penggalian di sebelah barat Desa al-Asha, wilayah pedesaan Provinsi Quneitra selatan.

Kementerian mengatakan pekerjaan tersebut merupakan bagian dari pelanggaran Israel yang terus berlangsung di zona penyangga yang diatur dalam perjanjian pelepasan pasukan.

“Kelanjutan pendekatan agresif pendudukan Israel, yang disertai serangan dan penyusupan di lapangan, menjadi ancaman langsung terhadap keamanan dan stabilitas regional serta merusak hukum internasional,” kata kementerian, dikutip dari TRT World.

Suriah mendesak masyarakat internasional mengambil langkah pencegahan untuk menghentikan praktik tersebut dan mencegahnya kembali terjadi.

Tegaskan Kedaulatan Wilayah

Kementerian Luar Negeri Suriah juga menegaskan kembali hak negara tersebut untuk menjalankan kedaulatan penuh atas seluruh wilayahnya berdasarkan hukum internasional dan resolusi PBB yang relevan.

Suriah meminta masyarakat internasional menjalankan tanggung jawab hukum dan moral untuk melindungi kedaulatan negara serta menghormati perbatasan.

Menurut televisi Suriah Al-Ikhbariya, proyek “Sofa 53," yang juga disebut sebagai “Great Storm," mencakup penggalian dan pembangunan jalan militer di sepanjang garis pemisah dalam zona penyangga.

Israel mulai mengerjakan proyek tersebut pada pertengahan 2022 di dekat Hader, Quneitra utara, sebelum memperluasnya melalui Jabata al-Khashab, al-Hamidiyah, al-Qahtaniyah, Ruweihina, Bir Ajam, dan Bariqa.

Jalur tersebut kemudian berlanjut ke selatan melalui al-Asha hingga mendekati titik pertemuan perbatasan Suriah, Yordania, dan Israel.

Perluasan Proyek Militer Israel

Sebagai bagian dari proyek tersebut, militer Israel membangun jalan militer dengan lebar sekitar delapan meter yang diapit tanggul tanah setinggi sekitar lima meter, menurut Al-Ikhbariya.

Israel juga membangun pos pengamatan dan posisi militer di sepanjang jalur tersebut yang berdekatan dengan garis gencatan senjata di Golan yang diduduki.

Sumber-sumber Suriah menyebut pasukan Israel telah bergerak antara 300 hingga 1.000 meter melewati garis gencatan senjata. Pembangunan militer disebut meningkat pada akhir 2024, terutama setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad.

Warga sebelumnya mengatakan kepada Anadolu bahwa perluasan proyek tersebut membuat ribuan dunam lahan pertanian di pedesaan Quneitra tidak lagi dapat digunakan untuk pertanian dan penggembalaan. Proyek itu juga disebut mengganggu aliran air dan mengubah kondisi alami kawasan.

Sejak jatuhnya Assad pada 8 Desember 2024, Israel memperluas operasi militernya di Suriah dengan mengerahkan pasukan ke zona penyangga Golan dan sejumlah posisi di sekitarnya.

Suriah menuntut penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka duduki serta menegaskan komitmennya terhadap perjanjian pelepasan pasukan 1974. Israel menyatakan pergerakan pasukannya didorong oleh pertimbangan keamanan.

Baca juga: Israel Serang Suriah Selatan, Desa Abidin Digempur Tembakan Artileri

(Willy Haryono)