Sawah padi di Sumba memakai varietas Sridewi. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah.
Benih Unggul Tak Cukup, Petani di Sumba Ungkap Tantangan Tingkatkan Hasil Panen
Zein Zahiratul Fauziyyah • 1 November 2026 12:41
Sumba Barat: Penggunaan benih unggul menjadi salah satu upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, bagi petani di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengganti benih bukan perkara sederhana.
Selain mempertimbangkan harga, petani perlu memahami teknik penanaman dan perawatan yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Salah satu varietas yang mulai digunakan petani di wilayah tersebut adalah Sridewi. Benih ini diperkenalkan melalui kolaborasi PT BISI Internasional dan Wahana Visi Indonesia (WVI) dalam Program INCLUSION.
Program INCLUSION merupakan inisiatif WVI yang menerapkan pendekatan Inclusive Market System Development atau pengembangan sistem pasar yang inklusif. Melalui pendekatan tersebut, WVI mendorong kerja sama berbagai pihak, mulai dari sektor swasta, lembaga keuangan, pemerintah daerah, hingga komunitas untuk memperluas akses masyarakat terhadap peluang ekonomi.
Dalam sektor pertanian, kolaborasi tersebut melibatkan PT BISI Internasional sebagai penyedia benih unggul sekaligus mitra pendampingan teknis. Sementara itu, lembaga keuangan seperti Credit Union (CU) Sangosay berperan dalam membantu petani mengakses pembiayaan sarana produksi pertanian.
Supervisor PT BISI Internasional wilayah Sumba Alex Viktorius Seran mengatakan pengenalan Sridewi pada awalnya menghadapi tantangan. Petani terbiasa menggunakan benih yang disiapkan sendiri sehingga keberadaan benih komersial dengan harga lebih tinggi menimbulkan keraguan.
“Awal-awal kita kenalkan varietas terbaru kita yang Sridewi itu susah diterima,” ujar Alex saat berbincang di Sumba Barat, Jumat, 30 Oktober 2026.
Petani Sempat Meragukan Varietas Sridewi
Menurut Alex, salah satu hal yang sulit dipercaya petani adalah kebutuhan benih yang jauh lebih sedikit. Untuk satu hektare lahan, kata Alex, Sridewi hanya membutuhkan sekitar 12 kilogram benih. Sementara itu, petani sebelumnya terbiasa menyiapkan benih hingga dua karung.“Makanya dengan adanya itu, kita buat demo di mana-mana, kita kenalkan lewat kegiatan-kegiatan pertanian. Di situ tingkat kepercayaan petani mulai tumbuh,” katanya.
PT BISI kemudian membuat lahan percontohan atau demplot agar petani dapat melihat langsung proses pertumbuhan dan hasil tanaman. Pendampingan juga dilakukan sejak pengolahan lahan, penyemaian, penanaman, hingga perawatan.
Alex menyebut, pada tahap awal terdapat sekitar tujuh hingga delapan petani yang mencoba Sridewi. Dalam kurun waktu dua tahun, jumlah pengguna disebut telah berkembang menjadi ratusan petani.

Supervisor PT BISI Internasional wilayah Sumba, Alex Viktorius Seran. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Pendampingan dan Pembiayaan Menjadi Tantangan
Pendampingan teknis menjadi penting karena penggunaan benih baru tidak cukup hanya dengan mengganti varietas. Petani juga perlu mengikuti cara perawatan yang disarankan.Alex mengatakan, hasil tanaman dapat tidak optimal apabila benih yang digunakan sudah baik, tetapi teknik budi dayanya tidak sesuai.
“Kalau benihnya bagus, tetapi cara kerjanya salah, hasilnya juga tidak akan maksimal,” ujarnya.
Selain pengetahuan, modal juga menjadi persoalan. Harga benih Sridewi yang disebut sekitar Rp130 ribu per kilogram membuat sebagian petani perlu mempertimbangkan kemampuan membeli benih dan kebutuhan perawatan lainnya.
Dalam Program INCLUSION, akses pembiayaan menjadi salah satu bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang lebih inklusif. WVI menggandeng lembaga keuangan seperti CU Sangosay untuk membantu petani memperoleh sarana produksi tanpa harus menanggung seluruh kebutuhan biaya di awal musim tanam.

Perwakilan CU Sangosay Cabang Waikabubak, Mauryanus Lawu. Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Fauziyyah
Perwakilan CU Sangosay Cabang Waikabubak, Sumba Barat, Mauryanus Lawu, mengatakan pembiayaan diarahkan agar petani memperoleh kebutuhan produksi tanpa harus menerima seluruh pinjaman dalam bentuk uang tunai.
“Jadi, bukan uang tunai yang diberikan kepada petani. Kebutuhan untuk bertani itu yang kita siapkan,” kata Mauryanus.
Melalui skema tersebut, kebutuhan seperti benih, pupuk, dan obat-obatan pertanian disalurkan sesuai perencanaan. Pembayaran pinjaman juga dirancang agar dapat dilakukan setelah masa panen.
Kolaborasi antara WVI, PT BISI, dan CU Sangosay menjadi salah satu upaya menghubungkan petani dengan akses benih, pendampingan teknis, serta pembiayaan. Dengan dukungan tersebut, petani diharapkan tidak hanya dapat menggunakan benih unggul, tetapi juga memiliki pengetahuan dan akses sumber daya untuk mengoptimalkan hasil pertanian.
Bagi petani, kombinasi benih, pengetahuan budi daya, dan akses modal menjadi faktor yang saling berkaitan. Sebab, peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada kualitas benih, tetapi juga dukungan ekosistem pertanian yang memungkinkan petani mengelola usaha taninya secara berkelanjutan.