Waspada Musim Hujan DKI, Ini 25 Kelurahan Rawan Banjir di Jakarta

lustrasi bencana banjir. Metrotvnews.com/Yurike

Waspada Musim Hujan DKI, Ini 25 Kelurahan Rawan Banjir di Jakarta

Nattasya Amani Vrazeti • 30 October 2026 14:42

Jakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memetakan 25 kelurahan sebagai wilayah prioritas rawan banjir dalam menghadapi musim hujan 2026. Pemetaan tersebut mengacu pada Rencana Kontinjensi Penanggulangan Banjir Tahun 2021.

“Dalam menghadapi musim hujan tahun 2026, BPBD Provinsi DKI Jakarta memberikan perhatian terhadap wilayah-wilayah yang memiliki riwayat kejadian banjir dan tingkat kerawanan yang tinggi, khususnya kawasan di sekitar aliran sungai, wilayah dataran rendah, serta kawasan pesisir yang berpotensi terdampak banjir rob,” ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat kepada Metrotvnews.com, Jumat, 30 Oktober 2026. 

Marulitua menyebut beberapa wilayah tersebut antara lain Jakarta Barat meliputi Rawa Buaya, Tegal Alur, Kedoya Selatan, Kedoya Utara, dan Kembangan Utara. Sementara itu, di Jakarta Selatan meliputi Jati Padang, Pejaten Timur, Pondok Labu, Ulujami, dan Cipulir. 

Kemudian, di Jakarta Timur terdapat enam kelurahan yang masuk dalam pemetaan, yakni Kampung Melayu, Bidara Cina, Cawang, Cipinang Melayu, Kebon Pala, dan Cililitan. Adapun, di Jakarta Utara terdapat tiga kelurahan, yaitu Pluit, Pademangan Barat, dan Rorotan.

“Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian dalam perencanaan kesiapsiagaan karena memiliki potensi terdampak banjir akibat curah hujan tinggi, luapan sungai, maupun pengaruh pasang air laut,” ujar Marulitua. 

Ilustrasi hujan Metrotvnews.com

Meski demikian, Marulitua mengatakan pemantauan tidak hanya terbatas pada 25 kelurahan tersebut. BPBD tetap memantau potensi banjir di seluruh wilayah DKI Jakarta dengan memperhatikan kondisi cuaca, tinggi muka air, serta perkembangan situasi di lapangan.

"Penentuan wilayah prioritas dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain riwayat kejadian banjir, kondisi geografis wilayah, tingkat kerawanan, serta potensi dampak yang dapat ditimbulkan kepada masyarakat,” ungkap Marulitua.

(Siti Yona Hukmana)