Kelompok pemberontak Houthi asal Yaman. (Agensi Anadolu)
Konflik Houthi-Arab Saudi, Bagaimana Awal Mulanya?
Angel Rinella • 21 October 2026 14:14
Riyadh: Serangan kelompok Houthi di Yaman ke bandara Riyadh, Arab Saudi, menyebabkan korban luka-luka pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Insiden ini menambah ketegangan antara kedua pihak di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.
Kelompok Houthi sebelumnya terlibat dalam perang saudara di Yaman dan berhadapan dengan koalisi pimpinan Arab Saudi sejak 2015. Konflik tersebut kemudian meluas hingga melibatkan kepentingan negara-negara lain dan mengganggu jalur pelayaran internasional.
Dalam perkembangannya, Houthi melancarkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak, termasuk terhadap kapal-kapal yang melintasi Laut Merah. Situasi semakin rumit setelah perang regional pada 2026 meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Untuk memahami latar belakang serangan tersebut, berikut sejarah konflik Houthi-Arab Saudi, tujuan kelompok Houthi, serta perkembangan terbaru yang melibatkan kedua pihak.

Yaman menyatakan siap menghadapi eskalasi setelah Houthi melancarkan serangan dan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Foto: Dok. Agensi Anadolu
Awal Mula Konflik Houthi-Arab Saudi
Konflik bermula pada 2014 ketika kelompok Houthi mengambil alih Sanaa, ibu kota Yaman, dan menggulingkan pemerintahan Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Hadi kemudian melarikan diri ke Aden sebelum meninggalkan Yaman ketika kelompok Houthi memperluas kendali wilayahnya.
Pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Hadi dan menghentikan kemajuan kelompok Houthi. Operasi tersebut mencakup serangan udara dan pembatasan akses masuk ke Yaman, yang turut memperburuk krisis kemanusiaan serta menimbulkan korban sipil.
Perebutan wilayah strategis, termasuk Pelabuhan Hodeidah, kemudian menjadi salah satu titik utama konflik. Pelabuhan tersebut penting karena menjadi jalur masuk bantuan kemanusiaan dan kebutuhan pokok bagi penduduk Yaman, sementara tuduhan Arab Saudi mengenai penyelundupan senjata melalui pelabuhan itu dibantah dalam laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sejumlah upaya gencatan senjata dan perundingan telah dilakukan, termasuk kesepakatan pada 2018 terkait Hodeidah dan gencatan senjata pada 2022. Namun, perselisihan mengenai wilayah, pendapatan minyak, dan pembagian kekuasaan membuat perdamaian sulit tercapai.
Apa Tujuan Kelompok Houthi?
Kelompok Houthi, yang juga dikenal sebagai Ansar Allah, berupaya mempertahankan kekuasaan dan wilayah yang telah dikuasainya di Yaman. Kelompok ini juga menentang pengaruh Arab Saudi dan Amerika Serikat di kawasan serta menolak pemerintahan Yaman yang didukung Riyadh.
Dalam perkembangannya, Houthi memperluas operasi militernya di luar wilayah Yaman, termasuk meluncurkan rudal dan pesawat nirawak ke arah Israel sejak Oktober 2023. Kelompok tersebut menyatakan serangan itu sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina setelah perang di Gaza pecah.
Houthi juga menyerang kapal-kapal di Laut Merah dengan alasan menargetkan pelayaran yang berkaitan dengan Israel. Serangan berulang mengganggu perdagangan internasional, mendorong sejumlah perusahaan pelayaran mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika, serta memicu serangan balasan Amerika Serikat dan Inggris pada 2024.
Di sisi lain, hubungan Houthi dengan Iran turut menjadi perhatian dalam konflik regional. Iran dituding memberikan dukungan kepada kelompok tersebut, sementara Houthi tetap memiliki kepentingan politik dan militer sendiri di Yaman.
Serangan ke Arab Saudi beberapa kali berhasil dicegat. Foto: Anadolu
Bagaimana Perkembangan Konflik Houthi-Arab Saudi?
Arab Saudi mencegat rudal balistik kelompok Houthi yang mengarah ke Riyadh pada Selasa, 20 Oktober 2026. Pencegatan terjadi setelah otoritas mengeluarkan peringatan bahaya dan warga mendengar suara ledakan.
Juru bicara koalisi militer pimpinan Arab Saudi, Turki Al-Maliki, mengonfirmasi keberhasilan pencegatan rudal tersebut. Ia menyatakan rudal yang diluncurkan kelompok Houthi berhasil dihancurkan sebelum mencapai sasaran.
“Kerajaan telah mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi ke arah Riyadh,” ujar Al-Maliki dikutip AFP, Rabu, 21 Oktober 2026.
Sementara itu, pertahanan sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan potensi bahaya melalui platform X. Peringatan tersebut dicabut beberapa menit kemudian setelah otoritas menyatakan situasi telah aman.
“Bahaya telah berlalu,” demikian pernyataan pertahanan sipil Arab Saudi setelah peringatan dicabut.
Pada malam harinya, Al-Maliki kembali melaporkan pencegatan pesawat nirawak (drone) di wilayah Riyadh. Rentetan serangan Houthi juga dilaporkan mengganggu penerbangan dan memaksa penundaan sebuah konferensi investasi besar di Arab Saudi.
Ketegangan meningkat setelah gencatan senjata yang disepakati pada 2022 runtuh pada Juli 2026. Situasi memburuk setelah Houthi mengizinkan pesawat Iran mendarat di Sanaa, yang dinilai menentang kendali Arab Saudi atas wilayah udara Yaman.
Houthi kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan menyerang kapal, wilayah, serta fasilitas minyak kerajaan tersebut. Pada September 2026, kelompok itu merebut sejumlah wilayah pesisir Laut Merah yang sebelumnya dikuasai pemerintah Yaman, sehingga mengancam jalur pelayaran strategis di kawasan.
