Volatilitas Pasar Meningkat, Bagaimana Dampaknya terhadap Nilai Investasi?

Head of Investment PT Eastspring Investments Indonesia, Liew Kong Qian (kedua dari kiri). Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan

Volatilitas Pasar Meningkat, Bagaimana Dampaknya terhadap Nilai Investasi?

Eko Nordiansyah • 4 November 2026 21:16

Jakarta: Volatilitas pasar modal menjadi salah satu risiko dalam pengelolaan portofolio investasi, termasuk bagi investasi asuransi. Perubahan harga saham, imbal hasil obligasi, hingga nilai tukar berpotensi memengaruhi nilai aset investasi, terutama yang memiliki eksposur terhadap instrumen pasar modal.

Head of Investment PT Eastspring Investments Indonesia, Liew Kong Qian, menilai ketidakpastian pasar keuangan masih perlu diwaspadai, baik dari sisi global maupun domestik. Menurut dia, ketika capital market mengalami tekanan, investasi yang ditempatkan pada instrumen saham berpotensi mengalami penurunan.

Sementara itu, kenaikan imbal hasil obligasi umumnya diikuti penurunan harga obligasi yang telah beredar. Fluktuasi nilai tukar juga dapat memengaruhi nilai aset dalam denominasi mata uang asing ketika dikonversikan ke rupiah.

Di pasar global, dia menyoroti volatilitas pasar saham Amerika Serikat (AS), kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sempat menembus USD100 per barel, hingga perubahan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

Menurut Liew, perubahan imbal hasil sebesar 100 basis poin dalam satu tahun merupakan pergerakan yang cukup besar bagi pasar modal.

“Perubahan 100 basis points dalam setahun sebenarnya cukup besar. Buat capital markets itu perubahan yang cukup drastis,” ujar Liew, Rabu, 4 November 2026.


(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Sementara itu, dari sisi domestik, tekanan juga terlihat pada pasar obligasi pemerintah. Liew menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dari sekitar tujuh persen menjadi 7,7 persen. Kondisi pasar saham domestik juga menghadapi tantangan, salah satunya berkaitan dengan perkembangan indeks MSCI.

Menurut dia, pergerakan pasar sepanjang tahun berjalan atau year to date menunjukkan fluktuasi pada berbagai instrumen investasi. Pergerakan tersebut terlihat pada saham global, obligasi, hingga nilai tukar mata uang yang mengalami kenaikan dan penurunan.

“Dan kalau gambaran secara year to date, baik saham equity global ke-8 negara, kemudian penerja obligasi juga year to date, ada yang naik dan turun,” kata dia.

Selain volatilitas pasar, Liew juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dia menyebut rupiah mengalami depresiasi rata-rata sekitar 3,4 persen per tahun terhadap dolar AS dalam kurun waktu 10 tahun. Bahkan, jika dilihat dalam periode pengamatan yang lebih pendek, angka depresiasinya dapat mendekati lima persen.

“Kalau diukur mungkin dalam kurun yang lebih singkat lagi, angkanya lebih tinggi, dekat lima persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar, berarti dalam setiap tahun nilai purchasing power dalam rupiah mengalami penurunan sebesar 3,4 persen terhadap dolar,” ujar dia.

Diversifikasi untuk mengelola risiko investasi

Menghadapi kondisi pasar yang masih berfluktuasi, Liew menilai diversifikasi menjadi salah satu strategi untuk mengelola risiko investasi. Investor perlu mempertimbangkan jangka waktu investasi atau investment horizon serta profil risiko sebelum menentukan komposisi portofolio.

“One of the ways is diversification, also looking at the investment horizon, in accordance with the investment risk at the time,” jelas dia.

Dia menyarankan investor tidak hanya bergantung pada satu jenis instrumen, tetapi mempertimbangkan kombinasi aset defensif dan aset yang memiliki potensi pertumbuhan. Instrumen seperti deposito dan obligasi dapat menjadi bagian dari portofolio, dengan komposisi yang disesuaikan berdasarkan kebutuhan dan tujuan keuangan.

Selain diversifikasi instrumen, diversifikasi mata uang juga dapat dipertimbangkan untuk mengelola risiko pelemahan rupiah. Menurut Liew, investasi dalam denominasi dolar AS dapat menjadi pilihan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan keuangan dalam mata uang tersebut, seperti biaya pendidikan di luar negeri, layanan kesehatan, maupun perjalanan internasional.

“So I think making investments in US dollar makes a lot of sense. Jadi diversifikasi uang bisa menjadi pilihannya untuk kita mengelola risiko, tetapi tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan dan juga tujuan keuangan masing-masing,” tuturnya. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)