Eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim. Dok. Istimewa
Nadiem Makarim Sebut Ada Banyak Gesekan Kecil saat Menjabat Mendikbudristek
Arbida Nila Hastika • 2 June 2026 15:11
Jakarta: Terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook, Nadiem Makarim, menyinggung pengalaman politik yang dialami selama menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) periode 2019-2024. Dia menyebut ada banyak gesekan kecil yang timbul karena ada pihak-pihak yang tak suka dengan transformasi di era kepemimpinannya.
“Waktu saya menteri, saya pun tahu banyak sekali pihak-pihak yang sangat kuat di dalam yang tidak menginginkan itu terjadi. Tetapi saya tidak mengantisipasi gesekan itu bisa menjadi dendam besar. Dan dari dendam besar itu, mungkin sebagian dari itu adalah mengapa kasus ini menjerat saya, kenapa kasus ini direkayasa sehingga menjerat saya,” ujar Nadiem usai membacakan pleidoi atau nota pembelaan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Saat pembacaan pleidoi, dia mengaku masih minim pengalaman dalam dunia politik saat dipercaya menjadi menteri di usia 35 tahun. Menurut dia, sejumlah kebiasaan yang dianggap wajar di lingkungan profesional justru menimbulkan persepsi berbeda di pemerintahan.
"Saya begitu gigih melakukan transformasi dengan cepat, saya kurang merangkul pihak-pihak lama dalam upaya perubahan tersebut. Saya meremehkan ritual politik, padahal itulah yang bisa membuat perubahan yang berkesinambungan, karena didukung semua pihak," ujar Nadiem.
.jpg)
Tersangka korupsi pengadaan laptop chromebook, Nadiem Makarim. Foto- Antara
Baca Juga:
Nadiem Klaim Pemilihan ChromeOS Hemat Keuangan Negara hingga Rp3,9 T |
Dia menyebut sejak awal menyadari ada pihak-pihak yang tidak menghendaki perubahan tersebut. Namun, dia tidak menduga gesekan yang muncul saat menjalankan reformasi dapat berkembang menjadi dendam yang besar.
"Tetapi saya tidak mengantisipasi bahwa gesekan itu bisa menjadi dendam besar. Dan, dari dendam besar itu, mungkin sebagian dari itu adalah mengapa kasus ini menjerat saya, kenapa kasus ini direkayasa sehingga menjerat saya. Saya rasa itu adalah bagian dari alasan kenapa saya di dalam situasi seperti ini," ujar Nadiem.
Menurut Nadiem, ironi terbesar yang dirasakan adalah ketika upaya yang selama ini dilakukan untuk memberantas korupsi justru berujung pada tuduhan korupsi terhadap dirinya.