Dieng Diselimuti Kristal Es, Wisatawan Rela Datang Pagi Buta Berburu Bun Upas

Fenomena embun beku atau bun upas di kawasan dataran tinggi Dieng, Wonosobo. (MI)

Dieng Diselimuti Kristal Es, Wisatawan Rela Datang Pagi Buta Berburu Bun Upas

Liliek Dharmawan • 9 June 2026 13:56

Wonosobo: Fenomena embun beku (es) atau bun upas kembali menyelimuti kawasan Dataran Tinggi Dieng di perbatasan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo, Jawa Tengah. Kemunculan lapisan kristal es tipis dalam tiga hari terakhir menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang sejak dini hari untuk menyaksikan fenomena alam khas musim kemarau tersebut.

Sekretaris Desa Dieng Kulon, Sabar Alfarisi, mengatakan embun beku mulai terlihat di sejumlah titik, terutama di sekitar kawasan wisata Candi Arjuna dan area terbuka lainnya.

"Kurang lebih sudah tiga hari terakhir embun beku mulai muncul di Dieng. Sebarannya terlihat di sekitar kawasan Candi Arjuna dan beberapa area terbuka lainnya," kata Sabar, Selasa, 9 Juni 2026.

Kawasan dataran tinggi Dieng. (MI)

Menurut dia, kemunculan bun upas langsung menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Banyak pengunjung memanfaatkan momen tersebut untuk melihat langsung sekaligus mengabadikan pemandangan kristal es yang menyelimuti rumput dan tanaman.

"Sudah banyak wisatawan yang datang untuk melihat dan mengambil foto embun beku. Fenomena ini memang selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung Dieng," ujarnya.

Pemicu Embun Beku di Dataran Tinggi Dieng

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Tengah BMKG, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan curah hujan di kawasan Dieng sejak 6 hingga 9 Juni 2026 tercatat 0,0 milimeter. Kondisi atmosfer yang sangat kering menjadi salah satu pemicu munculnya bun upas tahun ini.

"Curah hujan nol milimeter menunjukkan atmosfer berada dalam kondisi sangat kering. Selain itu, langit cenderung cerah tanpa awan pada malam hingga pagi hari," kata Goeroeh.

Ia menjelaskan tidak adanya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari dilepaskan secara maksimal ke atmosfer dan luar angkasa pada malam hari. Akibatnya, proses pendinginan berlangsung sangat cepat sehingga suhu permukaan tanah turun drastis.

"Suhu udara minimum di Dieng pada 9 Juni 2026 mencapai 1,05 derajat Celsius pada pukul 01.01 WIB. Sementara suhu rumput atau permukaan tanah tercatat lebih rendah, yakni 0,60 derajat Celsius pada pukul 08.30 WIB. Kondisi tersebut memungkinkan terbentuknya lapisan kristal es tipis pada rumput, tanaman pertanian, dan permukaan lainnya yang terpapar udara dingin secara langsung," jelas dia. Selain faktor cuaca, topografi Dieng yang berupa cekungan dan dikelilingi pegunungan turut memperkuat terbentuknya embun beku. Udara dingin dari lereng pegunungan bergerak turun pada malam hari dan terperangkap di dasar lembah sehingga suhu di kawasan tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan wilayah sekitarnya.

Fenomena bun upas merupakan kejadian yang lazim terjadi saat musim kemarau di Dieng dan selalu menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang ditunggu pengunjung setiap tahunnya.

(Lukman Diah Sari)