Ilustrasi. Foto: dok Republik Aero Dirgantara.
Pemerintah Dorong Batam Jadi Simpul Industri MRO Penerbangan Indonesia
Husen Miftahudin • 13 June 2026 07:14
Batam: Pemerintah terus memperkuat industri perawatan dan perbaikan pesawat atau Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing sektor penerbangan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat MRO di kawasan Asia.
Sekretaris Deputi Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur Republik Indonesia Rustam Efendi mengatakan keberhasilan industri penerbangan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan bandara dan pertumbuhan armada, tetapi juga kesiapan ekosistem pendukung, termasuk sektor MRO.
Menurut Rustam, akses terhadap industri MRO menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan industri penerbangan yang lebih efisien dan kompetitif.
"Kalau ingin sektor penerbangan kita kompetitif, tidak cukup hanya bicara avtur atau kapasitas bandara. MRO menjadi salah satu komponen penting yang menentukan efisiensi dan keberlanjutan industri penerbangan," kata Rustam Efendi dalam Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 di Batam, dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu, 13 Juni 2026.
Ia menyebut sektor penerbangan memiliki kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja dalam jumlah besar. Karena itu, penguatan sektor MRO menjadi bagian penting dalam agenda pembangunan infrastruktur nasional.
Rustam menegaskan pemerintah kini mulai menggeser pendekatan pembangunan, dari yang sebelumnya berfokus pada infrastruktur fisik menjadi pembangunan konektivitas yang lebih terintegrasi.
"MRO mendukung keberhasilan penerbangan Indonesia. Jadi yang dibangun bukan hanya bandara, tetapi juga sistem pendukung yang terintegrasi dengan kawasan industri dan logistik," jelas dia.
Dalam konteks tersebut, Batam dinilai memiliki posisi strategis untuk dikembangkan sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri MRO nasional. Selain berada di jalur perdagangan internasional, Batam juga memiliki kedekatan dengan pusat industri dan konektivitas kawasan.
Meski demikian, Rustam menilai tantangan Indonesia berbeda dibandingkan negara lain seperti Singapura. Menurut dia, Indonesia tidak bisa membandingkan pembangunan konektivitas secara langsung dengan Singapura yang memiliki wilayah lebih kecil dan sistem logistik lebih sederhana.
"Kita boleh belajar dari Singapura, tetapi tidak bisa membandingkan secara langsung. Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau. Karena itu strateginya adalah membangun beberapa titik hub dan pusat kargo," papar dia.
| Baca juga: Efek Konflik Timur Tengah, Laba Bersih Industri Penerbangan Global Diprediksi Turun Tahun Ini |

(Ilustrasi industri penerbangan. Foto: Medcom.id)
Pengembangan sejumlah wilayah sebagai simpul konektivitas nasional
Pemerintah saat ini memprioritaskan pengembangan sejumlah wilayah sebagai simpul konektivitas nasional, di antaranya Batam, Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
Untuk mendukung percepatan industri MRO, pemerintah tengah menyelaraskan konektivitas antara pelabuhan laut, bandara, kawasan industri, hingga sistem distribusi barang. Langkah ini ditujukan untuk menekan waktu tunggu kedatangan komponen dan suku cadang pesawat.
Rustam mengatakan koordinasi tersebut melibatkan banyak pemangku kepentingan agar proses keluar masuk barang menjadi lebih cepat dan efisien.
Sejumlah langkah yang disiapkan meliputi penyederhanaan arus logistik, percepatan proses kepabeanan di bandara, optimalisasi transportasi darat menuju kawasan industri, hingga penjajakan integrasi moda angkutan bersama operator pelabuhan dan kereta api.
Di sektor kebandarudaraan, pemerintah juga mendorong optimalisasi seluruh proses operasional bandara, tidak hanya pembangunan landasan. "Yang ingin dibangun bukan sekadar runway, tetapi keseluruhan proses yang membuat konektivitas berjalan efektif dan mendukung industri," tegas dia.
Selain infrastruktur, pemerintah menilai kesiapan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting. Rustam mengatakan Indonesia masih perlu meningkatkan jumlah dan kompetensi teknisi serta insinyur penerbangan agar pasokan tenaga kerja mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan industri.
Ia berharap penguatan standar industri dan percepatan rantai pasok dapat mendukung terciptanya layanan MRO berstandar internasional di dalam negeri.
Ke depan, Kepulauan Riau diproyeksikan menjadi salah satu wilayah pengembangan proyek konektivitas terintegrasi yang diarahkan untuk mendukung terbentuknya ekosistem aerocity dan kawasan industri penerbangan bertaraf global.