Kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Toipan, Kecamatan Pagimana, Kabupaten Banggai. ANTARA/HO-BPBD Sulteng
Peringatan BMKG: Potensi Karhutla Sangat Tinggi di Sulteng 9-15 Agustus
Lukman Diah Sari • 8 August 2026 12:09
Palu: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi selama 9–15 Agustus 2026.
"Kami sampaikan bahwa potensi kemudahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sulawesi Tengah saat ini berada pada kategori sedang hingga sangat tinggi di sejumlah kabupaten/kota," kata Kepala Stasiun Meteorologi Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Taufiq Hidayah, dalam keterangannya di Palu, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Ia mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi suhu udara yang tinggi, kelembapan rendah, dan angin kencang yang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.
"Oleh karena itu, kami mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta segera melakukan langkah-langkah mitigasi," ujarnya.
Ia juga meminta pemerintah meningkatkan patroli di kawasan rawan karhutla, terutama pada siang hingga sore hari. Penggunaan *drone* atau kamera pengawas dapat membantu petugas menemukan titik panas lebih awal. Pemerintah daerah juga perlu memastikan kesiapan peralatan pemadaman, seperti pompa air, tangki air, alat pemadam api ringan (APAR), dan perlengkapan petugas. Pos air dan sekat bakar juga dapat disiapkan di wilayah yang rawan.
Selain itu, BMKG mendorong pemerintah menyediakan nomor pengaduan yang aktif selama 24 jam agar petugas dapat segera menindaklanjuti laporan mengenai asap atau api. Pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan, semak belukar, maupun sampah ketika kondisi cuaca kering dan berangin.
(1).jpg)
Ilustrasi-Petugas berusaha memadamkan kebakaran lahan di Jalan Jenderal Sudirman Km 4 yang menjalar mendekati Perumahan Pandawa, Sampit, Kamis malam (6/8/2026). ANTARA/HO-BPBD Kotim
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap atau api di sekitar permukiman maupun kawasan hutan kepada perangkat desa, petugas keamanan, atau BPBD setempat. Selain itu, masyarakat dapat mengurangi risiko kebakaran dengan membersihkan ilalang dan semak serta menjauhkan tumpukan kayu, jerami, dan sampah kering dari rumah atau bangunan. Masyarakat juga dianjurkan menyediakan cadangan air untuk mengantisipasi kebakaran kecil serta mengikuti arahan petugas dan pemerintah apabila membutuhkan tindakan pencegahan maupun evakuasi.
Berdasarkan hasil analisis Fire Danger Rating System (FDRS), BMKG mencatat tingkat kemudahan bahan bakar ringan di permukaan tanah atau Fine Fuel Moisture Code (FFMC) berada di atas 82 pada seluruh 13 kabupaten/kota selama 9–15 Agustus. Nilai tersebut menunjukkan bahan bakar ringan seperti alang-alang dan dedaunan berada dalam kondisi kering dan sangat mudah terbakar. Buol mencatat nilai FFMC tertinggi, yakni 92 pada 15 Agustus, kemudian Parigi Moutong, Poso, dan Banggai Laut masing-masing 91.
Sementara itu, Fire Weather Index (FWI) yang menunjukkan potensi intensitas api apabila terjadi kebakaran mencapai nilai tertinggi di Banggai Laut sebesar 30 dan Banggai Kepulauan 29. Banggai mencatat nilai FWI 24, Buol dan Poso masing-masing 22, serta Tojo Una-Una 21. Morowali mencatat 19, Tolitoli 17, sedangkan Morowali Utara, Palu, Donggala, Parigi Moutong, dan Sigi masing-masing 15.