Waspada, Heatstroke dan Lonjakan Penyakit di Musim Kemarau Ekstrem

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi memberikan keterangan di Bandung. ANTARA/Ricky Prayoga

Waspada, Heatstroke dan Lonjakan Penyakit di Musim Kemarau Ekstrem

Whisnu Mardiansyah • 23 June 2026 21:44

Bandung: Dinas Kesehatan Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman serangan suhu panas ekstrem (heatstroke) dan lonjakan berbagai komplikasi penyakit, menyusul prediksi musim kemarau tahun ini yang akan berlangsung lebih kering dan panjang.

Suhu tinggi yang memicu kelembapan udara rendah tidak hanya meningkatkan risiko dehidrasi, tetapi juga berpotensi menaikkan suhu tubuh secara drastis secara mendadak.

"Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat celsius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis," ucap Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Vini Adiani Dewi di Bandung, seperti dilansir Antara, Selasa, 23 Juni 2026.

Vini memaparkan, selain heatstroke, kemarau ekstrem ini memicu penurunan drastis pasokan air bersih yang berdampak pada berkurangnya higienitas lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan virus dan bakteri terkonsentrasi secara masif, sehingga mempercepat penularan penyakit diare.

 



Penurunan kualitas udara akibat debu dan asap selama kekeringan juga memicu infeksi saluran pernapasan (ISPA). Tidak hanya itu, dalam jangka panjang, minimnya produksi pangan akibat kekeringan berisiko menimbulkan ancaman malnutrisi di masyarakat.

Sebagai langkah preventif, Dinkes Jabar menganjurkan masyarakat untuk menjaga hidrasi tubuh dengan minum air yang cukup, beristirahat secara teratur, menggunakan perlindungan fisik seperti payung atau topi saat berada di luar ruangan, serta memastikan asupan makanan bergizi.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta berkontribusi aktif menjaga kelestarian lingkungan dengan menanam dan merawat pohon serta tidak melakukan tindakan yang dapat memperburuk kualitas udara dan memicu kebakaran.

"Jangan membakar sampah dan lahan," ujar Vini Adiani Dewi.


Ilustrasi kekeringan. Foto: Dok. MGN.

(Whisnu M)