Bantu Padamkan Karhutla, Armada dari Jepang Bertugas 21 Hari

Kapal JS Kunisaki yang membawa tiga helikopter CH-47 Chinook bantuan Pemerintah Jepang tiba di Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis, 10 September 2026. Metro TV

Bantu Padamkan Karhutla, Armada dari Jepang Bertugas 21 Hari

Metro TV • 10 September 2026 22:32

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi kedatangan bantuan internasional dari Pemerintah Jepang untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mereka akan bertugas selama 21 hari. 

“Adapun lama tugas mereka (armada Jepang) membantu kita adalah dijatuhkan akan berlangsung selama 21 hari untuk membantu seluruh tim pemadam kebakaran yang ada di lapangan,” ujar Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, dalam konferensi pers daring, Kamis, 10 September 2026.

Berton mengatakan, bantuan armada dan personel dari pemerintah Jepang tersebut dikirimkan menggunakan kapal militer JS Kunisaki yang bersandar di Pelabuhan Kijing, Mempawah, Kalimantan Barat. Adapun kapal tersebut mengangkut tiga helikopter CH-47 Chinook.

"Tepatnya pada Kamis, 10 September 2026, armada kapal tersebut tiba dengan membawa tiga unit helikopter angkut berat jenis Chinook, beserta 180 hingga 300 personel," kata Berton. 

Sebelum diterjunkan ke lokasi karhutla, seluruh armada helikopter bantuan saat ini sedang menjalani serangkaian latihan uji terbang di Bandara Supadio, Pontianak. Tahapan ini dilakukan guna memastikan kesiapan teknis serta mematangkan rencana operasi udara bersama Satgas BNPB.


Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan. Foto: Istimewa.

Usai uji coba, tim gabungan akan mematangkan pemetaan wilayah sebelum memulai aksi pemadaman udara (water bombing) yang ditargetkan meluncur pada 11 atau 12 September. Langkah ini diiringi pengerahan tiga unit helikopter angkut berat jenis Chinook serta ratusan personel dari Jepang.

BNPB optimistis dukungan helikopter berkapasitas besar ini mampu menekan penyebaran titik api secara signifikan di wilayah terdampak. Sinergi internasional, baik pada penguatan armada darat maupun udara, akan terus dioptimalkan hingga situasi terkendali.

(Arini Noviawati Gunawan)

(Gabriella Thesa Widiari)