Basarnas mengerahkan helikopter HR-3601 untuk mengevakuasi para korban yang mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin pada Minggu (13/9/2026). ANTARA/HO-Basarnas
Kapal Virgo Transport 8: Basarnas Prioritaskan Cari 130 Penumpang Hilang
Lukman Diah Sari • 13 September 2026 17:26
Jakarta: Basarnas memprioritaskan pencarian 130 orang yang hingga kini masih hilang dalam kecelakaan Kapal Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa. Insiden itu terjadi saat kapal berlayar dari Surabaya, Jawa Timur menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada Minggu dini hari, 13 September 2026.
"Prioritas operasi diarahkan pada pencarian dan pertolongan terhadap 130 orang yang masih dalam pencarian," kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin selaku SAR Mission Coordinator, I Putu Sudayana dalam keterangannya di Jakarta, Minggu, 13 September 2026, melansir Antara.
Sedangkan TB TCP berhasil mengevakuasi 38 orang dengan rincian 33 orang selamat dan lima orang meninggal dunia dari lokasi kejadian. Selain itu, MV Haida berhasil mengevakuasi 49 orang dari Kapal Virgo Transport 8 dan seluruh korban tersebut dinyatakan selamat, sehingga total korban yang telah berhasil dievakuasi mencapai 103 orang dengan 97 orang selamat dan enam orang meninggal dunia.
Kapal Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026, pukul 02.00 Wita saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu, 12 September 2026. Basarnas memperkuat operasi pencarian dan pertolongan melalui pengerahan unsur udara serta kapal SAR gabungan.

Posko SAR Kapal Virgo Transport 8. (Foto Antara)
Sebanyak 16 orang yang dievakuasi TB Mauhaw IX, termasuk satu korban meninggal dunia, akan dibawa menuju Pelabuhan Tuban sesuai informasi dari nakhoda kapal tersebut, sedangkan 87 orang yang dievakuasi TB TCP dan MV Haida akan dibawa menuju Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Basarnas juga melaporkan sampai dengan pukul 14.56 Wita, pencarian dan pertolongan dilaksanakan secara terpadu oleh unsur laut dan udara. Pengembangan pencarian dilakukan dengan mempertimbangkan last known position (LKP), lokasi kejadian/titik tenggelam, serta informasi posisi penemuan dan penyelamatan survivor.