Perbatasan Rafah yang memisahkan wilayah Gaza dengan Mesir. Foto: EFE-EPA
Hanya 180 Warga Palestina Keluar dari Gaza Sejak Rafah Dibuka Kembali
Fajar Nugraha • 9 February 2026 09:59
Gaza: Otoritas Gaza melaporkan baru sekitar 180 warga Palestina yang berhasil keluar dari wilayah tersebut, sejak pintu perbatasan Rafah dibuka secara terbatas sepekan lalu.
Jalur Rafah, yang merupakan satu-satunya akses menuju Mesir tanpa melewati Israel, baru kembali beroperasi pada 2 Februari 2026 setelah dua tahun dikuasai militer Israel.
Kepala kantor media pemerintah di Gaza, Ismail al-Thawabteh, mengatakan bahwa dari hari Senin hingga Kamis, tercatat 135 orang menyeberang ke Mesir. Mayoritas dari mereka adalah pasien yang membutuhkan penanganan medis darurat beserta pendampingnya.
"Statistik resmi menunjukkan adanya pembatasan perjalanan yang sangat ketat di perbatasan Rafah sejak dibuka kembali hingga Kamis lalu," ujar Thawabteh, seperti dikutip TRT World, Senin, 9 Februari 2026.
Thawabteh menambahkan bahwa gerbang perbatasan tersebut sempat ditutup kembali pada Jumat dan Sabtu.
Pada Minggu, sebanyak 44 orang tambahan dilaporkan meninggalkan Gaza menuju Mesir. Direktur Rumah Sakit al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengonfirmasi bahwa rombongan tersebut mencakup 19 pasien dan kerabat mereka. Dengan tambahan ini, total warga yang keluar mencapai 179 orang.
Salah satu warga, Rajaa Abu al-Jadian, mengungkapkan rasa syukurnya karena akhirnya bisa membawa putranya yang cedera sejak setahun lalu untuk mendapatkan tindakan operasi lanjutan di Mesir.
"Ini adalah prosedur yang harus dilakukan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut pada kakinya," ujar Al-Jadian kepada AFP.
Pembukaan kembali perbatasan Rafah merupakan bagian dari rencana gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS Donald Trump guna meredakan krisis kemanusiaan di Gaza. Sebanyak 88 warga Palestina dilaporkan kembali masuk ke Gaza dari Mesir untuk bertemu keluarga mereka.
Sekitar 20.000 pasien di Gaza, termasuk 4.500 anak-anak, mendesak membutuhkan perawatan di luar negeri karena lumpuhnya fasilitas kesehatan setempat. Hingga saat ini, Israel hanya mengizinkan penyeberangan bagi pasien dan keluarga inti pendamping mereka.
Meskipun pembukaan ini menjadi titik terang bagi ribuan orang yang terluka, PBB dan organisasi kemanusiaan internasional terus mendesak agar akses dibuka secara penuh guna memenuhi kebutuhan mendesak jutaan warga Gaza yang masih terperangkap dalam kondisi darurat.
(Kelvin Yurcel)