Profil Jeffrey Epstein, Pelaku Kejahatan Seksual Anak yang Hebohkan Amerika

Jeffrey Epstein memeluk anak perempuan, tahun 2004. Foto: Daily Mail

Profil Jeffrey Epstein, Pelaku Kejahatan Seksual Anak yang Hebohkan Amerika

Riza Aslam Khaeron • 4 February 2026 14:58

Jakarta: Nama Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan setelah Departemen Kehakiman Amerika Serikat (Department of Justice/DOJ) merilis lebih dari tiga juta halaman materi terkait kasusnya pada 30 Januari 2026. Rilis ini merupakan bagian dari kewajiban DOJ berdasarkan undang-undang yang disahkan Kongres pada 2025, yang memerintahkan pembukaan dokumen Epstein kepada publik.

Publikasi tersebut kembali mengangkat kasus Epstein ke permukaan. Ia dikenal sebagai pelaku kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, pemerkosa berantai, dan pelaku perdagangan manusia—kasus yang mengguncang Amerika Serikat dan menarik perhatian dunia.

Dokumen yang dirilis ke publik mencakup jutaan halaman materi, termasuk ribuan video dan ratusan ribu gambar terkait tindak kejahatannya dan tokoh-tokoh yang terlibat. 

Beberapa di antaranya menyinggung tokoh-tokoh ternama seperti Presiden AS Donald Trump, mantan Presiden Bill Clinton, Perdana Menteri Israel, dan Pangeran Andrew. Meski demikian, sebagian isi dokumen masih disunting (redacted) atau ditahan karena alasan hukum, termasuk untuk melindungi identitas para korban.

Sebelum penangkapannya pada 6 Juli 2019, Epstein merupakan seorang financier ternama asal Amerika Serikat. Menurut Forbes, saat meninggal dunia pada 2019, kekayaannya ditaksir mencapai 578 juta dolar AS. Portofolionya meliputi properti-properti mewah, dua pulau pribadi di Karibia, serta dana tunai dan investasi lainnya, sebagaimana tercatat dalam dokumen harta warisannya.

Lantas, siapa sebenarnya Jeffrey Epstein dan bagaimana dia melakukan tindakan asusila dan perdagangan anak yang menghebohkan negara Paman Sam? Berikut merupakan profil lengkap Jeffrey Epstein.
 

Latar Belakang dan Jejak Awal Karier


Epstein tahun 2005. (Sipa Press/Rex Features)

Jeffrey Edward Epstein lahir dan dibesarkan di New York. Pada pertengahan 1970-an, ia sempat bekerja sebagai guru matematika dan fisika di Dalton School, sekolah swasta elite di Manhattan, meski tidak pernah menyelesaikan pendidikan universitasnya di bidang tersebut.

Dari lingkungan inilah Epstein mulai membangun relasi dengan keluarga-keluarga kaya dan berpengaruh, yang kemudian membuka jalannya ke dunia keuangan.

Karier Epstein melonjak setelah ia direkrut ke Bear Stearns, salah satu bank investasi besar di Wall Street. Dalam waktu relatif singkat, ia berhasil menjadi mitra di perusahaan tersebut sebelum akhirnya mendirikan firma sendiri, J. Epstein & Co., pada 1982.

Perusahaan ini dikenal sangat tertutup dan hanya melayani klien terbatas, namun diklaim mengelola aset bernilai lebih dari 1 miliar dolar AS.
 

Kasus Pelecehan Seksual dan Kematiannya


Foto Mugshot Epstein. (ABC News)

Masalah hukum Epstein mulai mencuat pada 2005, ketika keluarga seorang gadis berusia 14 tahun melapor ke polisi Florida atas dugaan pelecehan seksual. Investigasi mengungkap adanya pola korban yang berulang dan kesaksian yang konsisten.

Meski demikian, pada 2008 jaksa federal mencapai kesepakatan hukum dengan Epstein yang memungkinkan dirinya terhindar dari dakwaan federal berat. Ia hanya dijatuhi hukuman 18 bulan penjara di tingkat negara bagian Florida, dengan fasilitas work release yang memberinya kebebasan keluar penjara selama jam kerja.

Kesepakatan ini menuai kritik luas dan kemudian dijuluki media sebagai "kesepakatan abad ini".

Pada 6 Juli 2019, Epstein kembali ditangkap di New York atas dakwaan perdagangan seks terhadap anak di bawah umur dan menjalankan jaringan eksploitasi seksual. Ia membantah seluruh tuduhan dan mengaku tidak bersalah.


Epstein dan Maxwell. (Southern District of New York)

Epstein tidak pernah menjalani persidangan tersebut. Ia ditemukan meninggal dunia di sel tahanannya di Metropolitan Correctional Center, New York, pada 10 Agustus 2019. Kematian yang secara resmi dinyatakan sebagai bunuh diri itu memicu kontroversi global dan berbagai pertanyaan mengenai kelalaian serta kemungkinan penutupan fakta.

Setelah kematian Epstein, sorotan beralih kepada Ghislaine Maxwell, mantan pasangan sekaligus orang kepercayaannya. Maxwell didakwa membantu merekrut dan memperdagangkan anak-anak di bawah umur untuk dieksploitasi Epstein. Pada 2021, ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.
 

Apa yang Terjadi di “Pulau Epstein”?


Pulau Epstein. (NBC)

Pulau pribadi Jeffrey Epstein—terutama Little St James di Kepulauan Virgin AS—menjadi salah satu lokasi paling kontroversial dalam kasus ini. Pulau tersebut kerap dijuluki publik sebagai “Pulau Epstein” dan oleh warga lokal bahkan disebut “Pulau Pedofil”, merujuk pada berbagai tuduhan kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang disebut terjadi di sana.

Menurut pengacara para korban, Little St James merupakan lokasi terjadinya banyak tindak kejahatan seksual yang melibatkan anak perempuan di bawah umur. Epstein sendiri menyebut pulau itu sebagai tempat favoritnya dan menggambarkannya sebagai lokasi yang sangat terisolasi.

“Kepulauan Virgin AS itu sempurna karena sangat terisolasi,” kata Epstein dalam sebuah presentasi bisnis pada 2012.

Pulau-pulau tersebut—Little St James dan Great St James—hanya dapat diakses melalui helikopter atau kapal pribadi. Dari Amerika Serikat, Epstein biasanya terbang dengan jet pribadinya ke St Thomas sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau tersebut. Little St James memiliki luas sekitar 28 hektare, sementara Great St James sekitar 67 hektare.

Sejumlah kesaksian menyebut Epstein kerap membawa anak-anak perempuan ke pulau itu. Setelah kematiannya pada 10 Agustus 2019, agen FBI dan kepolisian New York menggeledah Little St James dan menyita lebih dari 300 gigabyte data digital serta berbagai barang bukti fisik.

Dalam gugatan perdata yang diajukan Pemerintah Kepulauan Virgin AS terhadap harta warisan Epstein, pulau tersebut disebut sebagai “tempat persembunyian sempurna” untuk melakukan perdagangan anak.

Dalam isi gugatan tersebut, Epstein dituduh menggunakan pulau itu untuk “perbudakan seksual, pelecehan anak, dan kekerasan seksual”, demikian tertulis 

Kesaksian juga datang dari pekerja bandara di St Thomas. Dua karyawan anonim mengatakan kepada Vanity Fair bahwa mereka berulang kali melihat Epstein bepergian dengan anak-anak perempuan.

“Dalam beberapa kesempatan, saya melihat Epstein turun dari helikopter, berdiri di landasan dalam pandangan jelas menara kontrol, lalu naik ke jet pribadinya bersama anak-anak—anak perempuan,” ujar salah satu mantan pekerja bandara.

Pulau ini juga disebut dalam tuduhan terhadap sejumlah tokoh publik. Virginia Giuffre, salah satu korban Epstein, mengklaim dirinya diperkosa Pangeran Andrew di Little St James saat masih berusia 17 tahun. Tuduhan tersebut dibantah Pangeran Andrew, meski ia kemudian menyelesaikan gugatan perdata dengan Giuffre di luar pengadilan.
 

Relasi dengan Tokoh-Tokoh Penting


Donald Trump dan Jeffrey Epstein. (NBC)

Kekayaan dan posisinya di kalangan elite membuat Jeffrey Epstein memiliki jaringan sosial luas, mencakup politisi, pebisnis, akademisi, hingga selebritas dunia  yang juga dituduh terlibat dengan aksi asusila/

Salah satu tokoh yang diketahui memiliki relasi dekat dengan Epstein adalah Donald Trump. 

“Saya sudah kenal Jeff selama 15 tahun. Orang yang hebat. Ia menyenangkan untuk diajak bersosialisasi. Bahkan dikatakan bahwa dia menyukai perempuan cantik sama seperti saya, dan banyak dari mereka usianya masih sangat muda,” ujar Trump dalam wawancara dengan New York Magazine pada 2002.

Kedekatan mereka tercatat sejak akhir 1980-an hingga awal 2000-an. Mereka kerap terlihat bersama di acara sosial eksklusif, seperti pesta di Mar-a-Lago dan perhelatan model Victoria’s Secret. Nama Trump juga tercantum dalam buku alamat Epstein—beserta nomor telepon pribadinya dan Melania—dan muncul beberapa kali dalam daftar penumpang jet pribadi Epstein.

Epstein sendiri mengklaim bahwa hubungannya dengan Trump bukan sekadar pertemanan biasa.

“Saya adalah teman terdekat Donald selama 10 tahun,” ujar Epstein kepada penulis Michael Wolff dalam rekaman wawancara pada 2017.

Dalam rekaman yang sama, Epstein menggambarkan Trump sebagai sosok yang menurutnya karismatik, namun problematik dalam kehidupan personal.

“Dia memang menawan. Dengan cara yang licik, dia menawan. Sampai batas tertentu, ini tragedi klasik—dia percaya sepenuhnya pada kebohongannya sendiri,” kata Epstein.

Namun, setelah Epstein ditangkap pada 2019, Trump menyatakan telah lama menjauh.

“Saya bukan penggemarnya, itu bisa saya pastikan. Kami sudah tidak berteman selama 15 tahun,” kata Trump di Gedung Putih.

“Banyak orang penting pergi ke pulau itu. Untungnya, saya bukan salah satunya,” tambahnya.
 
Nama Trump sering muncul dalam dokumen, namun beberapa dokumen yang merujuk kepada tuduhan tindakan asusila Trump dalam kasus ini telah dihapus sejak hari Jumat, 30 Januari 2026. Pihak DoJ mengatakan pada hari Jumat bahwa beberapa dokumen memiliki klaim "tidak benar" dan "sensasional".

"Jelasnya, klaim-klaim tersebut tidak berdasar dan palsu, dan jika mereka memang memiliki kredibilitas, klaim tersebut pastinya sudah dijadikan senjata terhadap Presiden Trump," ucap DoJ.

Klaim-klaim dalam rekaman ini, yang sebagian tidak dapat diverifikasi secara independen, menambah lapisan kontroversi dalam hubungan Trump dan Epstein. Rangkaian bukti dan kesaksian tersebut terus memicu perhatian terhadap jaringan elite yang pernah berada di sekitar Epstein.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Arga Sumantri)