Gambar Gedung Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) yang memakai sistem base isolation tipe friction pendulum (sumber: kontruksi media)
9 Teknologi Bangunan Tahan Gempa yang Digunakan di Indonesia dan Dunia
20 August 2026 18:01
Jakarta: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu, 15 Agustus 2026, menyebabkan kerusakan besar pada banyak bangunan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 08.00 WIB, sebanyak 29.001, 804 fasilitas pendidikan, 237 fasilitas kesehatan, 257 kantor, dan 195 rumah ibadah mengalami kerusakan. Data tersebut masih dapat berubah karena proses verifikasi di lapangan terus dilakukan.
Kerusakan akibat gempa NTT menjadi perhatian terhadap ketahanan bangunan di wilayah rawan gempa. Berbagai teknologi konstruksi kini dikembangkan untuk mengurangi dampak guncangan, mulai dari sistem isolasi hingga material bangunan.
Lantas, apa saja teknologi bangunan tahan gempa yang digunakan di Indonesia dan negara lain? Berikut ini ulasannya berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber.
1. Friction Pendulum System (FPS)
Friction Pendulum System (FPS) merupakan teknologi base isolation seismik yang bekerja dengan prinsip gerakan pendulum dan gesekan. Ketika gempa terjadi, isolator dapat bergerak pada permukaan yang berbentuk lengkung. Gerakan tersebut membuat struktur bagian atas tidak mengikuti seluruh gerakan tanah secara langsung.Sistem ini juga memanfaatkan mekanisme gesekan untuk membantu mendisipasikan energi gempa.
Salah satu bangunan di Indonesia yang menggunakan teknologi ini adalah Gedung Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) di Jakarta. Gedung ini dibangun dengan base isolation tipe Friction Pendulum yang mampu meredam guncangan gempa.
2. High-Damping Rubber Bearing
Salah satu perangkat yang dapat digunakan dalam sistem base isolation adalah High-Damping Rubber Bearing (HDRB).Perangkat ini menggunakan lapisan karet dengan karakteristik redaman tertentu. Ketika gempa terjadi, isolator memungkinkan pergerakan horizontal sehingga gaya gempa yang diteruskan ke bangunan dapat dikurangi.
Salah satu gedung di Indonesia yang dibangun dengan base isolation jenis rubber bearing adalah Gedung Tahan Gempa di Pelabuhan Ratu, Sukabumi atau dikenal dengan nama experimental building.
3. Lead Rubber Bearing
Teknologi lain yang masih berada dalam kelompok base isolation adalah Lead Rubber Bearing (LRB). LRB menggunakan bantalan karet yang dilengkapi inti timbal. Sistem tersebut memungkinkan bangunan bergerak ketika terjadi gempa sekaligus membantu mendisipasikan energi.Penggunaan sistem ini dapat membantu mengurangi respons struktur terhadap guncangan dibandingkan bangunan yang menggunakan fondasi tanpa sistem isolasi.
Namun, penerapan LRB tetap harus disesuaikan dengan desain struktur, kondisi tanah dan karakteristik bangunan. Salah satu bangunan di Indonesia yang menggunakan teknologi ini adalah gedung Anutapura Medical Center (AMC) di Palu, Sulawesi Tengah.
4. Damper atau Peredam Energi
Teknologi tahan gempa juga dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat yang menyerap atau mendisipasikan energi. Salah satunya adalah damper atau peredam energi. Perangkat ini bekerja dengan mengubah energi gerakan struktur sehingga respons bangunan terhadap gempa dapat dikendalikan.ITB pernah mengembangkan alat pelesap energi gempa uniaksial yang dirancang untuk melindungi struktur gedung dari kerusakan berlebih ketika terjadi gempa. Alat tersebut dirancang agar dapat menyerap energi gempa pada bangunan agar struktur utama tidak mengalami kerusakan berlebih.
Salah satu bangunan di Indonesia yang menggunakan teknologi ini adalah Gedung Smart and Green Learning Center (SGLC) UGM. Gedung ini menggunakan peredam gempa jenis viscoelastic damper pada area menaranya.
5. Metallic Damper
Metallic damper merupakan salah satu jenis perangkat disipasi energi yang memanfaatkan deformasi pada material logam untuk menyerap energi gempa. Teknologi ini bekerja dengan cara mendisipasikan energi melalui deformasi material. Dengan demikian, energi yang diterima struktur utama dapat dikendalikan.Konsepnya berbeda dengan base isolation. Jika base isolation berusaha mengurangi energi gempa yang diteruskan dari tanah ke bangunan, damper bekerja dengan menyerap atau mendisipasikan energi ketika struktur mengalami pergerakan.
6. Tuned Mass Damper
Pada bangunan tinggi, salah satu teknologi yang dapat digunakan untuk mengendalikan getaran adalah Tuned Mass Damper (TMD). Sistem ini menggunakan massa tertentu yang dirancang untuk bergerak mengikuti pola getaran yang berlawanan dengan gerakan struktur. Dengan cara tersebut, respons getaran bangunan dapat dikurangi.Teknologi TMD tidak hanya berkaitan dengan gempa. Sistem ini juga dapat digunakan untuk mengendalikan getaran akibat angin dan sumber gangguan lainnya.
Contoh gedung yang menggunakan teknologi ini adalah Shanghai Tower. Gedung 128 lantai ini memakai damper seberat 1000 ton.
7. Bresing Tahan Tekuk atau Buckling Restrained Brace (BRB)
Sistem bresing atau bracing juga menjadi bagian penting dalam desain bangunan tahan gempa. Salah satu pengembangannya adalah buckling-restrained brace atau bresing tahan tekuk.Teknologi ini memanfaatkan elemen struktur baja penahan gempa berupa batang baja inti yang diselimuti oleh mortar atau beton dalam selubung tabung baja. Selimut ini dapat mencegah inti baja menekuk saat mengalami beban tekan, sehingga kapasitas serap dan kekuatan strukturnya sama besar saat ditarik maupun ditekan.
8. Retrofit Seismic
Bangunan lama juga dapat diperkuat melalui metode seismic retrofit. Langkah tersebut dilakukan agar bangunan yang dibangun sebelum standar ketahanan gempa dapat berkembang seperti bangunan sekarang.Retrofit dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya memperkuat kolom dan balok, menambah elemen struktur, memasang damper atau menggunakan sistem isolasi tertentu.
Jepang menjadi salah satu negara yang banyak menerapkan pendekatan tersebut.
Salah satu gedung yang diretrofit ini adalah The National Museum of Western Art di Tokyo. Gedung ini dibangun pada 1959 dan diretrofit pada 1998 dengan dipasang sistem high damping rubber bearing (HDRB).
9. Struktur Daktail
Teknologi bangunan tahan gempa tidak selalu berupa perangkat tambahan. Cara bangunan dirancang sejak awal juga sangat menentukan tingkat keselamatannya. Salah satu prinsip penting adalah daktilitas.Struktur yang daktail dirancang agar mampu mengalami deformasi cukup besar ketika menerima beban gempa tanpa langsung mengalami keruntuhan. Artinya, bangunan tidak harus tetap kaku dan tidak bergerak sama sekali ketika gempa terjadi.
Struktur bangunan justru perlu dirancang agar mampu bergerak dan mendisipasikan energi secara terkendali. Penggunaan base isolation, damper maupun teknologi lainnya tetap harus didukung desain struktur yang sesuai dengan standar ketahanan gempa.
Meskipun berbagai teknologi tersebut dapat meningkatkan ketahanan bangunan terhadap gempa, satu teknologi tidak bisa diterapkan begitu saja pada seluruh jenis bangunan.
(Siti Nahdia Usman)