Memacu Mesin Pertumbuhan Baru

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.

Podium Media Indonesia

Memacu Mesin Pertumbuhan Baru

Abdul Kohar, Media Indonesia • 24 August 2026 06:42

MENARGETKAN pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 bukan perkara sulit di atas kertas. Angka itu bahkan telah dipasang Presiden Prabowo Subianto bersama sejumlah asumsi makro dan kebijakan fiskal dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Persoalannya, mesin apa yang hendak dipacu untuk mencapainya?

Pertanyaan itu penting sebab pertumbuhan ekonomi tidak lahir dari target. Ia membutuhkan mesin yang bekerja, bahan bakar yang cukup, dan transmisi yang sehat. Selama ini, konsumsi rumah tangga masih menjadi jangkar utama karena menyumbang porsi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB). Namun, untuk melompat dari pertumbuhan 5%-an menuju 6%, mengandalkan konsumsi saja jelas tidak memadai.
 


Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, pada kuartal II 2026 konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06%, investasi 6,87%, dan ekspor 4,13%. Angka investasi memang menjanjikan. Akan tetapi, investasi tidak otomatis berarti produktivitas meningkat. Di sinilah persoalan klasik Indonesia bernama incremental capital output ratio (ICOR) perlu diperhatikan. ICOR yang berada di kisaran 5-6 menunjukkan investasi kita masih membutuhkan modal relatif besar untuk menghasilkan tambahan output.

Dengan kata lain, jangan sampai mesin investasi hanya menjadi mesin impor. Modal masuk, barang modal didatangkan dari luar, tetapi kapasitas produksi domestik tidak tumbuh sepadan. Ekonomi memang bergerak, tetapi nilai tambah dan lapangan kerja yang tercipta tidak maksimal.

Karena itu, investasi harus diarahkan menjadi investasi produktif. Pemerintah perlu memperbesar keterlibatan swasta, mendorong hilirisasi yang berorientasi ekspor, memperlancar kredit produktif, dan membangun proyek yang cepat menurunkan biaya logistik. Belanja publik semestinya menjadi pemantik, bukan pengganti investasi swasta. Danantara pun harus mampu membuka pintu bagi investasi produktif yang memperbesar kapasitas industri.


Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.

Rantai pertumbuhannya harus jelas: belanja publik memancing investasi swasta, investasi memperbesar kapasitas produksi, industri menciptakan pekerjaan, pendapatan masyarakat meningkat, lalu konsumsi menguat. Bukan sebaliknya, konsumsi terus dipaksa menjadi lokomotif sementara produktivitas tertatih-tatih mengikutinya.

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan harus menjadi mesin utama. Kontribusinya sekitar 19% terhadap PDB terlalu besar untuk dibiarkan tumbuh biasa-biasa saja. Pertumbuhannya perlu didorong pada kisaran 6,5%-7%. Perdagangan idealnya sekitar 6%, konstruksi 7%-8%, informasi dan komunikasi 8%-10%, serta transportasi dan akomodasi 7%-9%.

Pertanian tetap harus tumbuh 4%-5% untuk menjaga pendapatan masyarakat desa sekaligus meredam gejolak harga pangan. Pertambangan jangan dijadikan sandaran utama karena terlalu rentan terhadap pasang surut harga komoditas global.

Target 6% memang ambisius. Namun, ambisi itu akan kehilangan makna jika hanya menjadi angka dalam dokumen anggaran. Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan baru yang lebih produktif, efisien, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Itu membutuhkan daya dorong dari pemerintah.

Dalam konteks menemukan sumber pertumbuhan baru ini, ekonom Dani Rodrik punya teori tentang pemerintah sebagai penggerak transformasi. Kata Rodrik, "Government has a positive role to play in stimulating economic development beyond enabling markets to function well.” Pemerintah memiliki peran positif dalam mendorong pembangunan ekonomi, lebih dari sekadar memastikan pasar berfungsi dengan baik.

Itu sangat cocok untuk gagasan bahwa pemerintah Indonesia perlu 'berkreasi' mencari mesin pertumbuhan baru, bukan sekadar menunggu pasar bekerja sendiri. Rodrik bahkan mengatakan keberhasilan pembangunan membutuhkan pendekatan yang selektif, bertahap, dan sering kali tidak konvensional, disesuaikan dengan kondisi tiap negara. Ia juga menilai negara-negara yang berhasil berkembang umumnya menggunakan kebijakan industri yang digerakkan pemerintah sehingga mampu memacu mesin pertumbuhan baru.

Jika mesin itu bisa dinyalakan, dampaknya bukan sekadar PDB yang membesar. Tenaga kerja terserap, UMKM tumbuh, ekspor menguat, dan penerimaan pajak meningkat. Di situlah pertumbuhan menemukan maknanya, yakni bukan hanya lebih tinggi, melainkan juga lebih luas dan lebih berkualitas.

(Fachri Audhia Hafiez)