Venezuela Diliputi Ketidakpastian usai Penangkapan Nicolas Maduro

Warga Venezuela terbelah dalam perayaan dan aksi protes pascapenangkapan Presiden Nicolas Maduro oleh AS pada Sabtu, 3 Januari 2026. (Anadolu Agency)

Venezuela Diliputi Ketidakpastian usai Penangkapan Nicolas Maduro

Muhammad Reyhansyah • 5 January 2026 09:03

Caracas: Venezuela memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian setelah penangkapan dan pencopotan mendadak Nicolás Maduro, yang memimpin negara itu selama 12 tahun terakhir. Situasi ini memunculkan kecemasan luas mengenai arah pemerintahan selanjutnya.

Di ibu kota Caracas dan sejumlah kota besar lainnya, suasana relatif sunyi. Warga enggan beraktivitas di luar rumah, sementara aparat keamanan terlihat dalam kondisi siaga. Meski demikian, hampir tidak tampak kehadiran kelompok paramiliter pro-pemerintah yang dikenal sebagai colectivos di jalanan.

Bagi warga yang tetap keluar rumah, prioritas utama adalah memastikan ketersediaan kebutuhan pokok. Mereka berbelanja bahan makanan dan obat-obatan sebagai langkah antisipasi jika terjadi bentrokan atau penjarahan. Tidak terlihat kepanikan berlebihan, namun kebiasaan menimbun persediaan saat krisis kembali muncul.

Mengutip laporan CNN, rekaman video menunjukkan jalan-jalan yang sebagian besar lengang, sementara antrean panjang terlihat di supermarket dan apotek. Suasana tersebut digambarkan dengan kalimat, “Anda tidak bisa mendengar apa pun di jalanan selain kicauan burung.”

Suara dari Berbagai Kota

Informasi dari luar Caracas masih terbatas. Reuters melaporkan antrean panjang pembelian bahan makanan di Maracaibo, pusat industri minyak di barat negara itu. Jairo Chacin, 39 tahun, seorang mekanik dan pemilik bengkel, mengatakan ia keluar rumah untuk memastikan usahanya aman.

“Saya keluar untuk mengecek bisnis karena khawatir terjadi penjarahan, tetapi jalanan kosong,” ujarnya kepada Reuters. 

Ia menambahkan, “Saya ingin mengisi bahan bakar, tetapi SPBU sudah tutup, jadi saya memanfaatkan kesempatan untuk membeli makanan karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sejujurnya, saya merasakan campuran antara takut dan senang.”

Di kota Maracay, Alejandra Palencia, 35 tahun, seorang psikolog, menggambarkan kondisi serupa. “Saya baru saja mengajak anjing keluar dan rasanya seperti kota yang ditinggalkan, orang-orang mengurung diri di rumah,” katanya. “Ada rasa takut dan ketidakpastian.”

Ketidakpastian juga dirasakan di Valencia, wilayah Venezuela bagian tengah. Nancy Pérez, 74 tahun, yang keluar rumah untuk membeli roti, mengatakan, “Saya ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Kekhawatiran soal Campur Tangan Asing

Sebagian warga menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kemungkinan keputusan tentang Venezuela diambil dari luar negeri. Jenny Salazar, yang ditemui CNN saat berbelanja di Caracas, menyatakan, “Saya tidak setuju dengan presiden lain, dari luar Venezuela, yang mengambil alih kendali atas kami.”

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dalam konferensi pers pada Sabtu bahwa pemerintahannya akan mengelola Venezuela “sampai ada transisi.” Pernyataan itu menambah kecemasan, termasuk di kalangan warga Venezuela di luar negeri.

Teo Tilin, yang tinggal di Miami dan sedang mengunjungi ibunya di Venezuela, mempertanyakan pernyataan tersebut. “Bagaimana mungkin (Donald Trump) akan mengendalikan? Kendali seperti apa? Siapa yang akan menjalankannya? Saya tidak tahu,” ujarnya.

Seorang dokter di Caracas yang menolak disebutkan namanya menilai peran militer akan sangat menentukan. “Sikap Angkatan Bersenjata Venezuela sangat fundamental. Kita harus menunggu dan melihat bagaimana mereka akan menentukan posisi,” katanya, seraya berharap adanya pendekatan antara Amerika Serikat dan oposisi Venezuela.

Transisi Politik yang Belum Jelas

Sesuai konstitusi Venezuela, presiden sementara Delcy Rodríguez diwajibkan menggelar pemilihan umum baru dalam waktu 60 hari. Namun, mekanisme transisi ini masih menimbulkan pertanyaan di kalangan publik.

“Saya sangat ingin tahu seperti apa transisi ini nantinya. Apa rencananya? Apakah dia yang akan memimpin negara dan menyelenggarakan pemilu? Bagaimana kita bisa mempercayainya?” ujar seorang warga Caracas lainnya.

Sementara itu, media pemerintah menampilkan pesan-pesan perlawanan dari pendukung rezim. Dalam siaran langsung Telesur pada Sabtu, seorang pemuda mengatakan, “Kami adalah anak-anak (Hugo) Chávez, kami meraih kedaulatan, dan kami tidak akan membiarkan Anda, yang menganggap diri sebagai polisi dunia, mengubahnya.”

Hugo Chávez memimpin Venezuela dari 1999 hingga 2013 dan menjadi pendiri gerakan Bolivarian yang kemudian diteruskan oleh Maduro. Rodríguez, yang dinominasikan Mahkamah Agung sebagai presiden setelah Maduro lengser, belum menyampaikan pernyataan pada Minggu. Namun, pemerintah tampak menekankan keberlanjutan pemerintahan.

Otoritas memastikan bandara internasional utama tetap beroperasi dan Majelis Nasional akan dilantik sesuai jadwal pada Senin. Pernyataan Trump yang menyebut kemungkinan bekerja sama dengan Rodríguez justru menambah ketidakpastian mengenai masa depan politik Venezuela.

Baca juga:  Tiongkok Kecam Serangan AS ke Venezuela, Tolak Keras Peran 'Polisi Dunia'

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)