CN-235. (Bob Archer/Key Aero)
Spesifikasi CN-235, Pesawat 'Buatan Indonesia' yang Terlibat Penangkapan Maduro
Riza Aslam Khaeron • 4 January 2026 16:57
Jakarta: Amerika Serikat (AS) berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya dalam operasi bertajuk "Absolute Resolve" pada 3 Januari 2026.
Operasi ini dilaksanakan oleh Negeri Paman Sam setelah konflik berkepanjangan, menyusul tuduhan bahwa Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba ke wilayah AS serta latar belakang operasi panjang bertajuk Southern Spear, yang menargetkan kapal-kapal diduga terlibat dalam perdagangan narkoba asal Venezuela dan telah menewaskan lebih dari 100 orang.
Berdasarkan laporan The New York Times, operasi ini melibatkan setidaknya 150 pesawat militer.
Salah satu pesawat yang digunakan adalah CN-235, hasil kerja sama antara perusahaan Spanyol CASA dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Berdasarkan hasil penelusuran, militer AS setidaknya memiliki 32 unit pesawat CN-235. Berikut adalah spesifikasi pesawat 'buatan Indonesia' tersebut.
Spesifikasi Kunci CN235-220
Program CN-235 bermula dari kolaborasi antara IPTN (kini PTDI) dan CASA (kini Airbus Defence & Space) sejak 1979. Prototipe pertama buatan CASA, bernama "Elena," menjalani uji terbang perdana pada 11 November 1983, sementara prototipe kedua, "Tetuko," buatan IPTN, terbang pada Desember 1983.Produksi serial dimulai pada 1986. Dari kolaborasi ini lahirlah berbagai varian, termasuk versi CN235-220 yang digunakan dalam operasi-operasi taktis, dan telah diproduksi lebih dari 300 unit secara global.
Berikut spesifikasi teknis utama pesawat CN-235-220:
| Komponen | Rincian Spesifikasi |
|---|---|
| Kapasitas penumpang | 35–42 orang |
| Konfigurasi misi kabin | Kargo, pasukan (hingga 49 personel), paratroop (34 personel), evakuasi medis |
| Mesin | 2 × General Electric CT7-9C turboprop |
| Daya mesin | APR: 1.870 SHP • Take-off: 1.750 SHP • Kontinu: 1.750 SHP |
| Propeler | Hamilton Standard HS 14 RF-21, 4 bilah • Diameter: 132 inci (3,35 m) |
| Panjang badan | 21,40 meter |
| Rentang sayap | 27,03 meter |
| Tinggi | 8,18 meter |
| Luas sayap | 59,1 meter persegi |
| Panjang kabin | 9,65 meter |
| Tinggi interior kabin | 1,84 meter |
| Lebar lantai kabin | 2,36 meter |
| Volume kabin | 41,9 meter kubik |
| Bobot maksimum saat taxi | 16.550 kg |
| Bobot maksimum lepas landas (MTOW) | 16.500 kg |
| Bobot maksimum saat mendarat | 16.500 kg |
| Bobot maksimum tanpa bahan bakar | 14.400 kg |
| Payload maksimum | 5.200 kg |
| Kapasitas bahan bakar maksimum | 4.000 kg |
| Jarak tinggal landas (AEO) | 931 meter |
| Jarak pendaratan | 1.043 meter |
| Critical field length | 1.234 meter |
| Kecepatan jelajah maksimum | 239 knot (ktas) |
| Kecepatan jelajah ekonomis | 212 knot (ktas) |
| Kecepatan hemat bahan bakar | 156 knot (ktas) |
| Baca Juga: Operasi Absolute Resolve, Cara AS Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro |
CN-235 dikenal sebagai pesawat angkut serbaguna berkonfigurasi high-wing, bertekanan kabin, dan dilengkapi dengan ramp door di bagian belakang untuk memudahkan bongkar muat cepat. Karakteristik STOL (short take-off and landing) membuatnya ideal untuk operasi militer di medan terbatas atau landasan pendek.
Pesawat ini dapat dikonfigurasi dalam berbagai misi, mulai dari angkut pasukan (hingga 49 personel bersenjata lengkap), penerjunan paratroop (hingga 34 personel), evakuasi medis, hingga transportasi kargo.