Indonesia Jajaki Kepemilikan Saham Tambang Potas di Belarus, Ini Tujuannya

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: dok Antara.

Indonesia Jajaki Kepemilikan Saham Tambang Potas di Belarus, Ini Tujuannya

Husen Miftahudin • 30 June 2026 21:13

Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan Indonesia melalui PT Pupuk Indonesia tengah melakukan due diligence atau uji tuntas untuk ikut menanam saham pada tambang potas di Belarus. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi memperkuat pasokan bahan baku pupuk nasional, khususnya untuk produksi pupuk NPK.
 
"PT Pupuk sedang melakukan due diligence untuk membahas kemungkinan ikut saham dalam pengembangan tambang potas di Belarus," kata Airlangga dikutip dari Antara, Selasa, 30 Juni 2026.
 
Airlangga menjelaskan, Indonesia tidak memiliki sumber daya potas domestik sehingga seluruh kebutuhan masih bergantung pada impor. Kondisi itu membuat pasokan rentan terganggu apabila terjadi disrupsi global.
 
Karena itu, keterlibatan Indonesia dalam kepemilikan saham tambang potas dinilai strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi pupuk.
 
"Kami bekerja sama secara strategis karena Indonesia tidak memiliki potas. Untuk itu, kami meningkatkan kepemilikan saham di dalam tambang," ungkap dia.
 
Menurut Airlangga, kepemilikan saham di tambang potas dapat menjadi instrumen mitigasi risiko agar rantai pasok bahan baku pupuk lebih terjamin.
 

Baca juga: Belarus Minta Indonesia Pasok 14 Ribu Ton CPO dan 120 Ribu Ton Kakao


(Ilustrasi pupuk. Foto: dok Badan Komunikasi Pemerintah)
 

Mitigasi risiko gangguan impor

 
Airlangga menilai tanpa kepemilikan langsung di sektor hulu, pasokan impor potas berpotensi terganggu ketika terjadi gejolak geopolitik atau hambatan distribusi global. Dengan masuk ke dalam struktur kepemilikan tambang, Indonesia memiliki posisi yang lebih kuat dalam menjaga ketersediaan bahan baku.
 
"Peningkatan kepemilikan saham di dalam tambang itu penting. Kalau tanpa kepemilikan seperti sekarang, ketika ada disrupsi, impor kita juga bisa ikut terdampak," beber Airlangga. Ia menambahkan, langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan nasional melalui penguatan sektor pupuk.
 
Di luar sektor tambang, Airlangga menyebut nilai perdagangan Indonesia dan Belarus saat ini mencapai sekitar USD220 juta dan menunjukkan peningkatan sejak penandatanganan perjanjian Eurasian Economic Union (EAEU).
 
Pemerintah berharap proses ratifikasi perjanjian tersebut dapat segera rampung agar membuka peluang kerja sama ekonomi yang lebih luas. "Kami berharap penandatanganan EAEU ini segera diratifikasi. Presiden sudah mempersiapkan surat ke DPR, sementara Rusia dan Belarus sudah meratifikasi perjanjian ini," tutur Airlangga
 
Airlangga menargetkan nilai perdagangan dan investasi kedua negara dapat meningkat hingga USD500 juta dalam waktu dekat.

(Husen Miftahudin)