Ilustrasi. Foto: Dok istimewa
Survei APJII: Gen Z Paling Banyak Mengakses AI
Riza Aslam Khaeron • 22 May 2026 14:45
Jakarta: Akses artificial intelligence (AI) di Indonesia tercatat menurun pada 2026, meskipun fenomena AI boom tengah marak terjadi secara global. Temuan menarik ini diungkapkan dalam laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dipublikasikan pada Mei 2026.
Survei APJII 2026 ini dilaksanakan pada 1 Februari sampai 15 Maret 2026. Populasi yang menjadi target survei adalah warga negara Indonesia di seluruh daerah yang berusia minimal 13 tahun.
Jumlah responden yang terlibat dalam survei ini mencapai 8.700 orang yang tersebar secara proporsional di 38 provinsi. APJII mengumpulkan data melalui metode wawancara tatap muka oleh enumerator terlatih. Adapun tingkat kesalahan (margin of error) sekitar 1,1 persen.
Dalam laporan tersebut, APJII mencatat bahwa tingkat penetrasi internet nasional pada 2026 sebenarnya mengalami kenaikan hingga mencapai 81,72 persen atau setara dengan 235.261.078 jiwa dari total populasi 287.886.782 jiwa (meningkat dibandingkan tahun 2025 yang sebesar 80,7 persen).
Namun, di tengah kenaikan akses internet tersebut, hanya 18,2 persen responden yang mengaku mengakses AI pada 2026. Angka ini menurun jika dibandingkan dengan 2025 yang sempat mencapai 27,3 persen. Sebaliknya, persentase warga yang tidak mengakses AI justru meningkat dari 72,7 persen pada 2025 menjadi 81,8 persen pada 2026.
Mayoritas Warga Belum Merasa Membutuhkan AI
.jpg)
Ilustrasi: Freepik.
Salah satu alasan utama mengapa masyarakat tidak menggunakan AI adalah karena mereka belum merasa membutuhkan konten berbasis teknologi kecerdasan buatan tersebut. Berdasarkan grafik data APJII, alasan merasa tidak membutuhkan konten AI menjadi faktor penentu terbesar pada 2026, yakni mencapai 43,1 persen. Angka ini melonjak tajam dibandingkan 2025 yang sebesar 22,7 persen.
Alasan lainnya yaitu ketidaktahuan mengenai teknologi AI itu. Pada 2026, sebanyak 35,5 persen responden mengaku tidak tahu mengenai teknologi AI, meskipun angka ini sudah lebih rendah ketimbang 2025 yang mencapai 46,6 persen.
Sementara itu, responden yang tidak mengetahui cara menggunakan AI tercatat sebesar 8,1 persen pada 2026, turun dari 15,5 persen pada 2025.
Alasan-alasan lain yang juga dilaporkan meliputi belum menemukan layanan AI yang menarik (4,4 persen), menganggap layanan AI sulit digunakan (4 persen), khawatir terhadap isu privasi dan keamanan (2,9 persen), serta tidak memiliki akses atau perangkat teknologi yang memadai (2 persen).
Gen Z Paling Banyak Mengakses AI
Jika ditinjau dari kelompok usia, Gen Z menempati posisi teratas sebagai kelompok yang paling aktif mengakses AI. APJII mencatat sebanyak 29,4 persen Gen Z (berusia 13–28 tahun) aktif mengakses AI, sedangkan 70,6 persen sisanya belum memanfaatkannya.Pada kelompok milenial (berusia 29–44 tahun), tingkat penggunaan AI tercatat sebesar 16,7 persen, sementara 83,3 persen lainnya tidak mengakses AI.
Angka penggunaan teknologi ini terlihat semakin menyusut pada kelompok usia yang lebih tua. Gen X (berusia 45–60 tahun) hanya mencatatkan tingkat akses AI sebesar 7,5 persen, sedangkan kelompok Baby Boomers dan Pre Boomers masing-masing hanya berada di angka 0,8 persen.
Menariknya, dari sisi gender, pengguna AI perempuan justru sedikit lebih dominan dengan proporsi sebesar 19,7 persen, sementara pengguna laki-laki berada di angka 16,7 persen.
| Baca Juga: Penuhi Kebutuhan 3 Juta Talenta Digital, SDM AI dan Siber Diperkuat |
Konten Hiburan Jadi Penggunaan AI Terbesar
Bagi kelompok responden yang aktif menggunakan AI, jenis konten yang paling sering diakses sepanjang tahun 2026 adalah AI untuk tujuan hiburan, seperti pembuatan video atau gambar generatif. Kategori ini mendominasi dengan porsi mencapai 36,5 persen.Kategori penggunaan terbesar berikutnya adalah AI untuk keperluan edukasi dan riset, seperti penggunaan chatbot dan pembuatan ringkasan akademik, dengan persentase sebesar 30,2 persen.
Selanjutnya, penggunaan AI untuk menunjang pekerjaan atau produktivitas—seperti penulisan otomatis, copywriting, dan analisis data—tercatat sebesar 26,9 persen. Sementara itu, pemanfaatan asisten digital berbasis suara atau perintah seperti Siri, Google Assistant, dan Bixby berada di angka 6,4 persen.
Pola pemanfaatan ini menunjukkan pergeseran minat jika dibandingkan dengan tahun 2025. Pada tahun 2025, kategori edukasi dan riset menempati porsi tertinggi dengan 43,9 persen, sedangkan penggunaan untuk hiburan hanya sebesar 29,5 persen. Dengan demikian, pada tahun 2026, arah pemanfaatan AI oleh masyarakat Indonesia bergeser lebih kuat ke arah konsumsi hiburan visual dan konten generatif.