Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Metrotvnews.com/Richard Alkhalik.
Purbaya Andalkan Sektor Swasta Demi Capai Ekonomi Tumbuh 6,5% di 2027
Husen Miftahudin • 20 May 2026 16:44
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pemerintah akan mengoptimalkan kontribusi sektor swasta sebagai mesin pertumbuhan ekonomi guna mencapai target pertumbuhan 6,5 persen pada 2027.
"Sekarang saja, tahun ini saja kita dorong (ekonomi) mendekati enam persen, jadi peluangnya besar sekali. Saya harap tahun depan mesin-mesin swastanya sudah berjalan lebih baik dibanding sekarang," kata Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 20 Mei 2026.
Purbaya meyakini target pertumbuhan tersebut realistis meski nilai tukar rupiah saat ini telah menembus Rp17.700 per USD. Menurut dia, pemerintah sudah menyiapkan berbagai langkah untuk memperkuat rupiah, termasuk intervensi di pasar obligasi.
"Kita kan udah masuk ke bond market, tapi juga ada langkah-langkah pemerintah yang membuat rupiah akan menguat dengan signifikan," ujar Purbaya.
Ia mengatakan asumsi nilai tukar dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 telah dihitung dengan matang.
"Jadi asumsi (makro) itu sudah kita hitung dengan model ekonometri yang cukup baik lah. Terus, engine-nya dari apa? Ini (ekonomi sekarang) dengan mesin swasta yang baru mulai bergerak loh, belum penuh. Saya pikir tahun depan udah bergerak lebih cepat," kata Purbaya.
| Baca juga: Bos BI Pede Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh hingga 5,7% di Sepanjang 2026 |

(Ilustrasi investasi. Foto: Medcom.id)
Tak ada rencana tambah pajak baru
Terkait kebijakan perpajakan, Bendahara Negara itu memastikan pemerintah belum berencana menambah jenis pajak baru pada tahun depan. Namun, ia membuka peluang penerapan pajak baru secara bertahap apabila kondisi ekonomi masyarakat dinilai sudah lebih sehat.
"Nah kita akan lihat secara selektif. Itu asumsi (KEM-PPKF 2027) belum ada kenaikan pajak baru, tapi kalau nanti sudah cukup sehat ekonomi masyarakat, ya kita akan pikirkan ini secara bertahap. Jadi kita enggak akan menerapkan pajak yang bisa mengganggu daya beli masyarakat dan mengganggu arah ekonomi," jelas Purbaya.
Adapun dalam dokumen KEM-PPKF 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara berada pada kisaran 11,82 persen sampai 12,40 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sementara belanja negara diproyeksikan mencapai 13,62-14,80 persen terhadap PDB. Adapun defisit anggaran diarahkan pada level 1,80 persen hingga 2,40 persen terhadap PDB.
Pemerintah juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2027 berada di kisaran 5,8 persen sampai 6,5 persen, lebih tinggi dibanding target APBN 2026 sebesar 5,4 persen. Inflasi diperkirakan berada pada rentang 1,5 persen-3,5 persen, sedangkan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun diproyeksikan sebesar 6,5 persen-7,3 persen.
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp16.800-Rp17.500 per USD. Sementara itu, harga minyak mentah dipatok pada level USD70-USD95 per barel, dengan lifting minyak sebesar 602 ribu-615 ribu barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 934 ribu-977 ribu barel setara minyak per hari.
Pada sasaran pembangunan 2027, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan turun menjadi 6,0-6,5 persen dari target 2026 sebesar 6,5-7,5 persen. Tingkat pengangguran terbuka juga ditargetkan menurun menjadi 4,30-4,87 persen dibanding target 2026 sebesar 4,44-4,96 persen.
Selain itu, indeks modal manusia ditargetkan mencapai 0,575 pada 2027, naik dari target 2026 sebesar 0,57, dengan rasio gini pada kisaran 0,362-0,367. Indeks kesejahteraan petani diproyeksikan meningkat menjadi 0,8038 dari sebelumnya 0,7731, sedangkan proporsi penciptaan lapangan kerja formal ditargetkan mencapai 40,81 persen, lebih tinggi dibanding target 2026 sebesar 35 persen.