Vance Kecam Penembakan di San Diego, Sebut Istrinya Dekat dengan Komunitas Muslim

Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bersama istrinya, Usha Vance. (Instagram)

Vance Kecam Penembakan di San Diego, Sebut Istrinya Dekat dengan Komunitas Muslim

Willy Haryono • 20 May 2026 07:30

Washington: Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance mengecam keras penembakan di kompleks masjid Islamic Center of San Diego yang menewaskan dua warga sipil dan seorang petugas keamanan.

Dalam konferensi pers Gedung Putih pada Selasa, 19 Mei 2026, Vance menyebut aksi kekerasan tersebut sebagai tindakan yang “menjijikkan,” anti-Amerika, dan bertentangan dengan nilai-nilai agama Kristen.

“Saya tidak mengenal satu orang pun yang akan mengatakan selain apa yang akan saya katakan sekarang, yaitu bahwa kekerasan seperti itu di Amerika Serikat, merupakan perbuatan yang sangat tercela,” kata Vance, dikutip dari TRT World, Rabu, 20 Mei 2026.

Ia juga mengajak warga Amerika untuk mendoakan para korban dan seluruh pihak yang terdampak insiden tersebut. “Kami tidak ingin hal seperti itu terjadi di negara kami,” ujarnya.

Vance juga turut mengecam kekerasan politik dan kekerasan atas nama agama secara umum.

“Kita seharusnya berbicara satu sama lain, bukan saling menembak ketika tidak sepakat,” katanya, seraya menambahkan bahwa Presiden Donald Trump memiliki pandangan yang sama.

Vance mengatakan ia dan sang istri, Usha Vance, memiliki kedekatan pribadi dengan komunitas Muslim di San Diego karena keluarga istrinya tinggal di kota tersebut.

“Pusat komunitas Islam itu sebenarnya sangat dekat dengan restoran yang selalu kami kunjungi setiap kali datang ke San Diego,” ujarnya.

Ia mengatakan istrinya pasti mengenal sejumlah orang yang rutin datang ke masjid di Islamic Center of San Diego.

Bertentangan dengan Nilai Amerika dan Kristen

Penembakan di Islamic Center of San Diego telah menewaskan tiga orang, termasuk petugas keamanan bernama Amin Abdullah yang disebut berhasil mencegah potensi pembantaian lebih besar terhadap anak-anak dan staf di kompleks masjid.

Penyelidik menemukan tulisan kebencian dan anti-Islam di kendaraan milik dua tersangka, yakni Cain Clark (17) dan Caleb Vazquez (18), yang diduga bunuh diri setelah serangan.

Otoritas juga menemukan catatan bunuh diri yang memuat supremasi ras serta atribut Nazi SS dari para pelaku.

Selasa kemarin, aparat AS menyita lebih dari 30 senjata api, termasuk pistol, senapan, shotgun, dan busur panah dari lokasi yang terkait dengan kedua tersangka.

Vance mengatakan kekerasan terhadap pemeluk agama merupakan tindakan yang sangat bertentangan dengan nilai Amerika dan ajaran Kristen.

“Sebagai seorang Kristen yang taat, saya akan mengatakan bahwa ini adalah salah satu tindakan paling anti-Kristen dan anti-Amerika yang bisa dilakukan seseorang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kebebasan beragama merupakan salah satu hak fundamental masyarakat Amerika yang berakar dari warisan peradaban Kristen.

“Ketika Anda melakukan tindakan kekerasan, Anda menyerang gagasan fundamental bahwa manusia diciptakan menurut gambar Tuhan dan memiliki hak untuk menemukan jalan mereka sendiri menuju Tuhan,” pungkas Vance.

Baca juga:  Trump Sebut Penembakan di Masjid San Diego Mengerikan, Janji Selidiki Penuh

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)