Menag Dorong Peran Imam dalam Diplomasi Keagamaan

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Foto: Istimewa.

Menag Dorong Peran Imam dalam Diplomasi Keagamaan

Metro TV • 3 July 2026 20:08

Jakarta: Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan, diplomasi keagamaan menjadi salah satu pendekatan yang perlu dikuatkan di tengah konflik global. Menurutnya, melalui peran para imam dan masjid, nilai-nilai keagamaan mampu menumbuhkan dialog, toleransi, dan semangat perdamaian.

Hal itu disampaikan Nasaruddin, saat membuka kegiatan Bridging to International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 dan MTQ Imam Masjid Provinsi Banten 2026 di Masjid Raya Baitul Mukhtar, Tangerang Selatan, Jumat, 3 Juli 2026.

"Maka itu, pembekalan imam juga sangat penting sebagai pemimpin informal dalam masyarakat kita. Kami sangat yakin kalau imam itu profesional, maka itu akan sangat membantu," kata Nasaruddin. 
 


Dalam kesempatan yang sama, dilakukan pula pelantikan pengurus Persaudaraan Imam Masjid Indonesia Provinsi Banten. Nasarudin mengatakan, imam masjid merupakan sosok yang paling sering berinteraksi dengan masyarakat dan memiliki peran strategis dalam menyampaikan pesan keagamaan.

Adapun kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten. Gubernur Banten Andra Soni berharap, kegiatan ini dapat memperkuat fungsi masjid dan memberikan dampak positif bagi daerah.

"Pemerintah Provinsi Banten mendukung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan masyarakat, pusat informasi, pusat peradaban, dan semoga ini sama-sama bisa kita jaga," kata Andra.


Ilustrasi. Foto: Istimewa.

Usai pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang menghadirkan narasumber dari akademisi hingga tokoh agama. Seminar tersebut membahas tantangan yang dihadapi umat serta strategi peran imam dalam membina kehidupan sosial dan keagamaan.

Rangkaian kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan menuju IGIC 2026. Konferensi tersebut diharapkan menjadi wadah bagi para imam dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman, serta memperkuat kerja sama menghadapi berbagai persoalan keumatan dan kemanusiaan.

(Gilang Kelana Putra)

(Gabriella Thesa Widiari)