Masuk Musim Kemarau, Simak 6 Penyakit Akibat Panas yang Perlu Diwaspadai

Ilustrasi: Andrea Piacquadio/Pexels

Masuk Musim Kemarau, Simak 6 Penyakit Akibat Panas yang Perlu Diwaspadai

Riza Aslam Khaeron • 10 July 2026 18:43

Jakarta: Memasuki bulan Juli, Indonesia kini telah memasuki periode musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung sepanjang Juli hingga September, dengan sebagian besar wilayah tanah air diperkirakan mengalami kondisi terpanasnya pada bulan Agustus.
 
Sekitar 56,18 persen wilayah daratan Indonesia diproyeksikan menghadapi musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal, menjadikannya jauh lebih kering daripada kondisi biasanya.

Minimnya tutupan awan dan intensitas hujan yang rendah selama musim kemarau membuat masyarakat akan lebih sering terpapar terik matahari langsung, terutama bagi mereka yang aktif bekerja atau beraktivitas di luar ruangan. Paparan suhu ekstrem dalam jangka panjang yang disertai aktivitas fisik berat serta kurangnya asupan cairan tubuh dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius.

Berdasarkan info dari laman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), berikut adalah enam jenis penyakit akibat cuaca panas yang wajib diwaspadai:
 

1. Heat Stroke (Sengatan Panas)


Ilustrasi: Fabian Reck/Pexels

Heat stroke merupakan tingkatan penyakit akibat panas yang paling kritis dan berbahaya. Kondisi ini terjadi ketika tubuh kehilangan kemampuan untuk mengendalikan suhu internalnya, sehingga mekanisme produksi keringat gagal berfungsi dan suhu tubuh dapat melonjak drastis hingga mencapai 41°C atau lebih hanya dalam waktu 10 hingga 15 menit.

Jika tidak segera mendapatkan penanganan darurat, heat stroke dapat mengakibatkan kerusakan organ, kecacatan permanen, hingga kematian.

Gejala:

  • Kebingungan, bicara melantur, atau perubahan drastis pada status mental.
  • Kehilangan kesadaran hingga pingsan (koma).
  • Kulit terasa panas dan kering, atau justru bisa juga berkeringat sangat deras.
  • Tubuh mengalami kejang.
  • Suhu tubuh meningkat sangat tinggi secara mendadak.

Pertolongan Pertama:

  • Segera hubungi layanan darurat 119 atau ambulans terdekat.
  • Tetap dampingi dan awasi kondisi penderita hingga bantuan medis tiba.
  • Pindahkan penderita ke area yang lebih teduh, sejuk, dan memiliki sirkulasi udara baik, lalu longgarkan atau lepas pakaian luarnya.
  • Dinginkan tubuh penderita sesegera mungkin dengan cara: merendamnya di dalam air dingin/es, membasahi kulit secara menyeluruh, atau menempelkan kain basah dingin pada area kepala, leher, ketiak, dan selangkangan.
  • Kipasi penderita secara manual atau dengan kipas angin untuk mempercepat proses penurunan suhu tubuh.
     

2. Heat Exhaustion (Kelelahan Panas)

Heat exhaustion terjadi akibat tubuh kehilangan terlalu banyak air dan garam penting melalui keringat yang keluar secara berlebihan.

Gejala:

  • Sakit kepala yang mengganggu.
  • Mual hingga muntah.
  • Rasa pusing atau kliyengan.
  • Tubuh terasa sangat lemas dan tidak bertenaga.
  • Menjadi lebih sensitif dan mudah marah.
  • Rasa haus yang sangat hebat.
  • Keringat bercucuran secara berlebihan.
  • Suhu tubuh meningkat dari batas normal.
  • Frekuensi buang air kecil menurun dan urine berwarna pekat.

Pertolongan Pertama:

  • Bawa penderita ke klinik atau Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat untuk evaluasi medis.
  • Jika tidak ada fasilitas kesehatan terdekat, segera hubungi nomor darurat 119.
  • Pindahkan penderita dari paparan panas dan berikan tempat untuk beristirahat.
  • Lepaskan pakaian yang ketat atau tidak diperlukan, termasuk sepatu dan kaus kaki.
  • Kompres area kepala, wajah, dan leher menggunakan air dingin secara berkala.
  • Dorong penderita untuk minum air dingin secara perlahan namun sering.
     

3. Rhabdomyolysis

Rhabdomyolysis (sering disingkat sebagai rhabdo) merupakan kondisi medis darurat akibat stres panas dan aktivitas fisik berat yang berkepanjangan. Kondisi ini memicu kerusakan hebat dan kematian jaringan otot secara cepat. Ketika jaringan otot rusak, protein dan elektrolit berbahaya akan dilepaskan ke aliran darah, yang berpotensi merusak ginjal, memicu kejang, hingga mengganggu irama jantung.

Gejala:

  • Kram otot yang parah atau rasa nyeri yang tidak biasa pada bagian tubuh tertentu.
  • Urine berubah warna menjadi sangat gelap (menyerupai teh pekat atau cola).
  • Tubuh terasa lemas luar biasa.
  • Hilangnya toleransi tubuh terhadap aktivitas fisik ringan sekalipun.
  • Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa muncul tanpa menunjukkan gejala klinis yang jelas pada awalnya.

Pertolongan Pertama:

  • Hentikan seluruh aktivitas fisik atau olahraga saat itu juga.
  • Konsumsi air putih sebanyak mungkin untuk membantu ginjal menyaring racun.
  • Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan atau rumah sakit terdekat.
  • Mintalah pemeriksaan darah khusus untuk mengukur kadar creatine kinase guna memastikan diagnosis rhabdomyolysis.
     
Baca Juga:
Hujan Badai hingga Gelombang Panas Ganggu Perayaan 250 Tahun Kemerdekaan AS
 

4. Heat Syncope (Pingsan akibat Panas)

Heat syncope ditandai dengan pusing atau pingsan sesaat yang umumnya terjadi akibat berdiri terlalu lama di bawah terik matahari, atau ketika seseorang langsung berdiri secara tiba-tiba dari posisi duduk atau berbaring. Dehidrasi dan tubuh yang belum beradaptasi dengan suhu panas (aklimatisasi) menjadi pemicu utama kondisi ini.

Gejala:

  • Kehilangan kesadaran atau pingsan dalam durasi singkat.
  • Pusing kepala.
  • Sensasi melayang atau limbung saat berdiri lama atau ketika beranjak berdiri secara mendadak.

Pertolongan Pertama:

  • Bimbing penderita untuk segera duduk atau berbaring rileks di tempat yang sejuk dan rindang.
  • Berikan air putih, jus buah bening, atau minuman elektrolit secara perlahan untuk mengembalikan hidrasi tubuh.
     

5. Kram Panas

Kram panas umumnya menyerang otot orang-orang yang mengeluarkan banyak keringat selama beraktivitas atau berolahraga berat di lingkungan yang panas. Hilangnya kadar garam dan cairan tubuh secara masif merupakan pemicu utama nyeri kram ini. Selain itu, kram panas juga kerap menjadi alarm awal bahwa tubuh mulai mengalami heat exhaustion.

Gejala:

  • Otot terasa kaku dan kram.
  • Rasa nyeri hingga kejang otot pada area perut, lengan, atau kaki.

Pertolongan Pertama:

  • Berikan penderita air minum yang dikombinasikan dengan camilan asin atau minuman berelektrolit setiap 15 hingga 20 menit sekali.
  • Hindari pemberian tablet garam secara langsung karena dapat mengganggu keseimbangan natrium lambung.
  • Segera cari bantuan medis jika penderita memiliki riwayat penyakit jantung, sedang menjalani diet rendah natrium, atau jika kram otot tidak kunjung mereda setelah lewat dari 1 jam.
     

6. Biang Keringat

Biang keringat merupakan masalah iritasi kulit ringan yang dipicu oleh penyumbatan kelenjar keringat ketika seseorang berada di lingkungan dengan suhu udara panas dan lembap.

Gejala:

  • Munculnya bintil-bintil kemerahan yang menyerupai jerawat kecil atau lepuhan halus pada kulit.
  • Ruam ini umumnya muncul pada area leher, dada bagian atas, selangkangan, bawah payudara, serta lipatan siku.

Pertolongan Pertama:

  • Segera pindahkan aktivitas ke ruangan atau lingkungan yang lebih sejuk, kering, dan berpendingin udara.
  • Pastikan area kulit yang mengalami ruam tetap terjaga kering dan bebas dari lembap.
  • Taburkan bedak gatal atau bedak kocok yang sejuk untuk mengurangi rasa gatal dan tidak nyaman.
  • Hindari penggunaan salep berminyak atau krim tebal pada area ruam karena justru dapat memperparah penyumbatan kelenjar keringat.

(Riza Aslam Khaeron)