Menteri PU: Bendungan Jadi Kunci Swasembada Pangan dan Pengembangan EBT

Menteri PU Dody Hanggodo. Foto: dok Istimewa.

Menteri PU: Bendungan Jadi Kunci Swasembada Pangan dan Pengembangan EBT

Husen Miftahudin • 14 July 2026 11:24

Jakarta: Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menegaskan bendungan merupakan infrastruktur strategis yang berperan penting dalam mendukung swasembada pangan sekaligus pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Menurut Dody, bendungan tidak hanya berfungsi sebagai penopang sektor pertanian, tetapi juga memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat melalui penyediaan air baku, pengurangan risiko banjir, serta pengembangan energi bersih.

"Bendungan merupakan infrastruktur multifungsi yang dibangun untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat. Selain memperkuat layanan irigasi sebagai penopang swasembada pangan, bendungan juga menyediakan air baku, mendukung pengembangan energi baru terbarukan, serta mengurangi risiko banjir di berbagai wilayah," ujar Dody dalam keterangannya di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.

Sementara itu, PT Nindya Karya (Persero) menyatakan terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung agenda strategis pemerintah di bidang sumber daya air dan ketahanan pangan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelesaian pembangunan dua bendungan yang termasuk dalam lima bendungan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Jumat, 10 Juli 2026.

Lima bendungan yang diresmikan meliputi Bendungan Jlantah di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah; Bendungan Meninting di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat; Bendungan Sidan di Kabupaten Gianyar, Bali; Bendungan Keureuto di Kabupaten Aceh Utara, Aceh; serta Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh.

Dari lima bendungan tersebut, dua proyek dikerjakan oleh PT Nindya Karya, yakni Bendungan Meninting di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Aceh.
 



(Ilustrasi bendungan. Foto: Brantas Abipraya)
 

Fungsi irigasi hingga energi bersih


Secara teknis, Bendungan Meninting memiliki kapasitas tampung sebesar 9,91 juta meter kubik. Infrastruktur tersebut dirancang untuk melayani daerah irigasi seluas 1.559 hektare, menyediakan air baku sebesar 0,15 meter kubik per detik, serta mengurangi risiko banjir pada area seluas 59 hektare.

Selain itu, bendungan ini juga memiliki potensi mendukung pengembangan energi baru terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air (PLTA) berkapasitas 0,80 megawatt (MW) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) terapung berkapasitas 9,23 MW.

Sementara itu, Bendungan Rukoh di Aceh memiliki kapasitas tampung yang diharapkan mampu memperkuat sistem pengairan pertanian di wilayah tersebut.

Direktur Utama Nindya Karya Firmansyah menegaskan perusahaan berkomitmen mendukung pelaksanaan program prioritas pemerintah, terutama dalam memperkuat ketahanan air, pangan, dan energi nasional.

"Nindya Karya berkomitmen untuk terus mendukung dan mensukseskan program pemerintah, terutama dalam mewujudkan ketahanan pangan di tanah air," jelas Firmansyah.

Ia menyampaikan dukungan tersebut diwujudkan melalui penyelesaian proyek-proyek infrastruktur strategis yang memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

(Husen Miftahudin)