PM Israel Benjamin Netanyahu. (EPA-EFE)
Sebut Perang Belum Berakhir, Netanyahu Dorong Pembongkaran Fasilitas Nuklir Iran
Muhammad Reyhansyah • 11 May 2026 10:11
Tel Aviv: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu, 10 Mei 2026, mengatakan bahwa perang melawan Iran "belum berakhir" di tengah gencatan senjata yang masih berlaku sejak 8 April lalu.
"Perang dengan Iran belum berakhir, dan fasilitas pengayaan (material nuklir) harus dibongkar serta uranium yang diperkaya tinggi harus dipindahkan," kata Netanyahu dalam wawancara dengan media CBS News, yang kutipannya dipublikasikan situs berita Israel Walla.
Mengutip Anadolu, Senin, 11 Mei 2026, ia mengatakan tujuan perang AS-Israel terhadap Teheran mencakup "menghilangkan uranium yang diperkaya, membongkar lokasi pengayaan, menghentikan produksi rudal balistik, dan menetralkan proksi Iran di kawasan."
"Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan karena Iran masih memiliki kemampuan, meski kami telah secara signifikan menguranginya," klaim Netanyahu.
Netanyahu juga mengatakan terdapat kemungkinan untuk "masuk dan mengambil uranium" dari Iran, namun menolak menjelaskan lebih lanjut. Ia mengklaim Presiden AS Donald Trump mengatakan kepadanya, "Saya ingin masuk ke sana."
Israel Menunggu Keputusan AS soal Iran
Pada Sabtu, media Israel melaporkan Trump berjanji kepada Netanyahu bahwa Washington tidak akan memberikan konsesi terkait isu uranium Iran, sementara Tel Aviv masih menunggu keputusan AS mengenai arah hubungan dengan Teheran.Channel 13 Israel, mengutip seorang pejabat yang tidak disebutkan namanya, mengatakan Israel "terus menunggu dan mengantisipasi" keputusan Trump mengenai Iran.
Sementara itu, pada Minggu dini hari, Iran mengirimkan respons terhadap proposal terbaru AS untuk mengakhiri perang melalui mediator Pakistan, menurut kantor berita resmi Iran IRNA, tanpa memberikan rincian isi tanggapan tersebut.
Ketegangan kawasan meningkat sejak AS dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu serangan balasan Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di Teluk, termasuk penutupan Selat Hormuz.
Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan permanen.
Kesepakatan itu kemudian diperpanjang oleh Trump tanpa batas waktu sambil membuka ruang diplomasi untuk mencari solusi permanen atas perang tersebut.
Baca juga: Trump Pastikan AS Tak Akan Berkompromi soal Isu Uranium Iran