Ilustrasi. Foto: Magnific.
Tak Lagi Identik Pelit, Frugal Living Kini Dianggap Keren oleh Gen Z
Ade Hapsari Lestarini • 8 May 2026 15:57
Jakarta: Gaya hidup hemat atau frugal living semakin diterima generasi muda. Frugal living tak lagi dipandang sebagai simbol kekurangan, melainkan bagian dari cara menampilkan diri dan gaya hidup modern.
"Sekarang hemat itu adalah pilihan sadar, karena kita memang mau hemat saja, enggak mau boros," kata Antropolog Semiarto Aji Purwanto, dilansir Antara, Jumat, 8 Mei 2026.
Menurut Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia itu, frugal living tak lagi sekadar dimaknai sebagai upaya mengurangi pengeluaran, tetapi berkembang menjadi nilai sosial baru yang menekankan konsumsi secara wajar dan tidak berlebihan.
Ia menilai generasi muda semakin rasional membelanjakan uang. Mereka mempertimbangkan kesesuaian antara pengeluaran dan manfaat yang diperoleh.
"Apa yang dikeluarkan dan apa yang didapat. Mengeluarkan dengan harga yang masuk akal, yang wajar, dan mendapatkan sesuai dengan apa yang diharapkan," ujar dia.

Masyarakat urban mulai menghindari konsumsi berlebihan
Semiarto mengatakan perubahan tersebut juga dipengaruhi munculnya etika baru di masyarakat urban yang mulai menghindari perilaku konsumsi berlebihan.
"Jangan boros-boros, jangan over consumption, enggak perlu lagi beli yang mahal-mahal atau yang berlebih, cukup saja," kata Semiarto Aji Purwanto.
Menurut dia, gaya hidup hemat saat ini juga berkaitan dengan estetika dan cara generasi muda membangun citra diri di ruang publik maupun media sosial.
"Sekarang bicara penampilan itu yang clean, yang bersih, simple, itu keren," ujar Semiarto.
Ia menjelaskan, frugal living berkembang menjadi bagian self-presentation atau cara seseorang menampilkan identitas sosialnya. Frugal living, tegas dia, bukan sekadar hemat atau pelit, tapi cara menampilkan diri di publik.
Semiarto menilai terjadi perubahan nilai konsumsi di kalangan generasi muda. Dari yang sebelumnya berorientasi pada simbol status dan pamer kemewahan menjadi penekanan pada disiplin diri dan konsumsi yang lebih sadar.
"Dalam bahasa antropologi, kita sebut sebagai reframing, merangkai ulang nilai konsumsi dari sekadar pamer status menjadi disiplin diri," ujar Semiarto.